Kelembagaan DAS

Syukriy Abdullah dan Jhon Andra Asmara

ERILAKU OPORTUNISTIK LEGISLATIF DALAM PENGANGGARAN DAERAH; Bukti Empiris atas Aplikasi Agency Theory di Sektor Publik

Oleh: Syukriy Abdullah dan  Jhon Andra Asmara;  e-mail: syukriy_abdullah@yahoo.com
Dosen Fakultas Ekonomi – Universitas Syiah Kuala

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG , Padang, 23-26 Agustus 2006

Abstrak

Penerapan otonomi daerah di Indonesia berdasarkan UU No. 22/1999 dan UU No. 25/1999 telah membuka peluang diaplikasikannya teori keagenan dalam riset penganggaran publik. Legislatif adalah prinsipal bagi eksekutif sekaligus agent bagi voters (pemilih). Asimetri informasi antara eksekutif dan legislatif menjadi tidak terlalu berarti ketika legislatif menggunakan discretionary powernya dalam penganggaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) legislatif sebagai agen dari voters berperilaku oportunistik dalam penyusunan APBD, (2) besaran PAD berpengaruh terhadap perilaku oportunistik legislatif, dan (3) APBD digunakan sebagai sarana untuk melakukan political corruption.

Kata-kata kunci: otonomi daerah, eksekutif, legislatif, APBD, hubungan keagenan, agency problem, principal-agent drift, abdikasi, perilaku oportunistik, political corruption.

A. PENDAHULUAN

Kebijakan autonomi daerah di Indonesia2 telah membawa perubahan yang sangat mendasar terhadap hubungan Pemerintah Daerah (eksekutif) dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) atau legislatif, dimana legislatif memilih dan memberhentikan kepala daerah.3 Hal ini menunjukkan bahwa di antara legislatif dan eksekutif terjadi hubungan keagenan (Halim, 2002; Halim & Abdullah, 2006). Perubahan ini juga berimplikasi pada kian besarnya peran legislatif dalam pembuatan kebijakan publik, termasuk penganggaran daerah.

——

2 Otonomi daerah di Indonesia didasarkan pada UU 32/1999 tentang pemerintah daerah dan UU 25/1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
3 Pasal 16 ayat 2 UU No. 22/1999. Hal ini berbeda dengan pola hubungan eksekutif-legislatif sebelumnya yang menempatkan eksekutif dan DPRD sebagai bagian dari Pemerintah Daerah, di mana keduanya berada pada posisi yang setara.

Secara faktual di Indonesia saat ini banyak mantan dan anggota legislatif yang divonis bersalah oleh pengadilan karena menyalahgunakan APBD. Kemungkinan hal ini terkait dengan peran legislatif yang sangat besar dalam penganggaran, terutama pada tahap perencanaan atau perumusan kebijakan anggaran dan pengesahan anggaran. Dugaan adanya misalokasi dalam anggaran karena politisi memiliki kepentingan pribadi dalam penganggaran dinyatakan oleh Keefer & Khemani (2003), Mauro (1998a, 1998b), dan Tanzi & Davoodi (2002).

Kondisi powerful yang dimiliki legislatif menyebabkan tekanan kepada eksekutif menjadi semakin besar. Posisi eksekutif yang “lebih rendah” dari legislatif membuat eksekutif sulit menolak “rekomendasi” legislatif dalam pengalokasian sumberdaya yang memberikan keuntungan kepada legislatif, sehingga menyebabkan outcome anggaran dalam bentuk pelayanan publik mengalami distorsi dan merugikan publik. Dengan demikian, meskipun penganggaran merupakan bagian dari sistem informasi yang dapat digunakan untuk mengurangi oportunisme agen (Eisenhardt, 1989), kenyataannya dalam proses pengalokasian sumberdaya selalu muncul konflik kepentingan di antara actors (Jackson, 1982). Untuk menjelaskan  fenomena self-interest dalam penganggaran publik tersebut, teori keagenan4 dapat dipakai sebagai landasan teoretis (Christensen, 1992; Johnson, 1994; Smith & Bertozzi, 1998).

——-

4 Dalam penelitian ini istilah agency theory dan principal-agent theory digunakan secara bergantian dan tidak ada perbedaan makna di antara keduanya.

Alokasi sumberdaya dalam anggaran mengalami distorsi ketika politisi berperilaku korup. Perilaku korup ini terkait dengan peluang untuk mendapatkan keuntungan pribadi pada proyek-proyek yang akan dibiayai dengan anggaran, yakni pengalokasian akan lebih banyak untuk proyek-proyek yang mudah dikorupsi (Mauro, 1998a; 1998b) dan memberikan keuntungan politis bagi politisi (Keefer & Khemani, 2003). Artinya, korupsi dan rent-seeking activities di pemerintahan berpengaruh terhadap jumlah dan komposisi pengeluaran pemerintah. Menurut Garamfalvi (1997), korupsi dapat terjadi pada semua level dalam penganggaran, sejak perencanaan sampai pada pembayaran dana-dana publik. Korupsi secara politis (political corruption) terjadi pada fase penyusunan anggaran di saat mana keputusan politik sangat dominan, dengan cara mengalihkan alokasi sumberdaya publik. Sementara korupsi yang terjadi dalam pelaksanaan anggaran disebut korupsi administratif (administrative corruption) karena keputusan administrasi lebih dominan. Pada akhirnya korupsi politik akan menyebabkan korupsi administratif.

Dalam perkembangannya kemudian, posisi legislatif yang kuat berdasarkan UU 22/1999 mengalami perubahan setelah UU tersebut diganti dengan UU 32/2004. Salah satu perubahan terpenting adalah dalam hal pemilihan kepala daerah, yang dipilih langsung oleh rakyat tanpa melalui perantaraan legislatif, sehingga pemberhentian kepala daerah juga bukan kewenangan dari legislatif. Selain itu, PP 110/2000 yang mengatur kedudukan keuangan DPRD, yang mengandung kemungkinan bias interpretasi atas anggaran DPRD, diganti dengan PP 24/2004.5 perubahan ini diharapkan mengurangi perilaku oportunistik legislatif dengan memanfaatkan discretionary power yang dimilikinya (Halim & Abdullah, 2006).

——-

5 Penelitian Jaya (2005) menemukan bahwa para elite pemerintah di daerah melakukan pelanggaran atas peraturan mengenai alokasi anggaran untuk kepala daerah/wakil kepala daerah dan legislatif (DPRD). Ia menyimpulkan adanya kelebihan alokasi untuk anggaran-anggaran tersebut, melebihi standar yang diperbolehkan dalam Peraturan Pemerintah.

Berdasarkan pemahaman di atas, motivasi yang melandasi penelitian ini adalah: pertama, belum ada penjelasan ilmiah dan empiris dalam perspektif akuntansi dan penganggaran publik yang menjelaskan bagaimana penyalahgunaan power dilakukan oleh legislatif terjadi dalam proses pengalokasian sumberdaya di anggaran. Kedua, studi mengenai peran legislatif dalam penganggaran di Indonesia dengan menggunakan perspektif keagenan belum dilakukan karena pendekatan anggaran yang digunakan sebelumnya tidak memungkinkan menggali lebih jauh perilaku oportunistik legislatif.6 Dan ketiga, fakta bahwa anggaran tidak berpengaruh terhadap outcome (Ablo & Reinikka, 1998) karena adanya alokasi anggaran yang terdistorsi oleh politisi yang korup (Mauro, 1998a; 1998b) dan kepentingan politis (Keefer & Khemani, 2003, 2004). Untuk itu dipandang perlu penjelasan lebih mendalam tentang perilaku oportunistik legislatif dalam penganggaran publik.

———

6 Smith & Bertozzi (1998) menyatakan bahwa studi tentang penganggaran publik tidak memadai lagi dengan menggunakan basis teori traditional hierarchical-based models. Mereka mengintroduksi penggunaan principal-agent models. Halim (2002) dan Halim & Abdullah (2006) merekomendasikan hal yang sama untuk konteks Indonesia.

B. LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS PENELITIAN

1. Penganggaran Publik dan Politik Anggaran

Lebih dari enam puluh tahun lalu, V.O. Key sudah mengisyaratkan bahwa penganggaran memiliki satu masalah paling mendasar, yakni keterbatasan sumber daya. Key (1940) mengajukan pertanyaan berikut: “on what basis shall it be decided to allocate x dollars to activity A instead of activity B?” Keterbatasan sumberdaya yang dimiliki menyebabkan proses pembuatan keputusan pengalokasian menjadi sangat dinamis, terlebih lagi dalam kondisi di mana terdapat banyak pihak dengan kepentingan dan preferensi yang berbeda (Rubin, 1993).

Penganggaran atau proses penyusunan anggaran publik memiliki karakteristik berbeda dengan penganggaran dalam bisnis. Menurut Lee & Johnson (1998) karakteristik tersebut mencakup (1) ketersediaan sumberdaya, (2) motif laba, (3) barang publik, (4) eksternalitas, (5) penentuan harga pelayanan publik, dan (6) perbedaan lain seperti intervensi pemerintah terhadap perekonomian melalui anggaran, kepemilikan atas organisasi, dan tingkat kesulitan dalam proses pembuatan keputusan.

Anggaran merupakan alat utama pemerintah untuk melaksanakan semua kewajiban, janji, dan kebijakannya ke dalam rencana-rencana konkrit dan terintegrasi dalam hal tindakan apa yang akan diambil, hasil apa yang akan dicapai,  pada biaya berapa dan siapa yang akan membayar biaya-biaya tersebut (Dobell & Ulrich, 2002). Sementara Freeman & Shoulders (2003:94) menyatakan bahwa anggaran yang ditetapkan dapat dipandang sebagai suatu kontrak kinerja antara legislatif dan eksekutif. Menurut Rubin (1993:4), penganggaran publik adalah pencerminan dari kekuatan relatif dari berbagai budget actors yang memiliki kepentingan atau preferensi berbeda terhadap outcomes anggaran. Adanya keterbatasan dana yang dimiliki oleh pemerintah menjadi alasan mengapa penganggaran menjadi mekanisme terpenting untuk pengalokasian sumberdaya. Bagi Hagen et al. (1996), penganggaran di sektor publik merupakan suatu bargaining process antara eksekutif dan legislatif.

Penganggaran setidaknya mempunyai tiga tahapan, yakni (1) perumusan proposal anggaran, (2) pengesahan proposal anggaran, dan (3) pengimplementasian anggaran yang telah ditetapkan seabagi produk hukum (Samuels, 2000). Sedangkan menurut Von Hagen (2002) penganggaran terbagi ke dalam empat tahapan, yaitu executive planning, legislative approval, executive implementation, dan ex post accountability. Pada kedua tahapan pertama terjadi interaksi antara eksekutif dan legislatif dan politik anggaran paling mendominasi, sementara pada (dua) tahap terakhir hanya melibatkan birokrasi sebagai agent.

2. Proses Penyusunan Anggaran di Indonesia

Penerapan autonomi daerah di Indonesia tak terlepas dari perubahan paradigma dalam pengelolaan dan penganggaran daerah. Penganggaran kinerja (performance budgeting) merupakan konsep dalam penganggaran yang menjelaskan keterkaitan antara pengalokasian sumberdaya dengan pencapaian hasil yang dapat diukur. Penganggaran berbasis kinerja mulai diterapkan di Indonesia berdasarkan PP 105/2000 dan Kepmendagri 29/2002 pada tahun anggaran 2003 atau 2004. Anggaran kinerja mendorong partisipasi dari stakeholders sehingga tujuan pencapaian hasil sesuai dengan kebutuhan publik. Legislatif diberi kesempatan untuk berperan aktif dalam penyusunan dan penetapan anggaran sebagai produk hukum.

Proses penyusunan anggaran dalam penganggaran kinerja dimulai dari satuan kerja-satuan kerja yang ada di Pemda, melalui dokumen usulan anggaran yang disebut Rencana Anggaran Satuan Kerja (RASK). RASK kemudian diteliti oleh tim anggaran eksekutif untuk dinilai kelayakannya (berdasarkan urgensi dan ketersediaan dana) diakomodasi dalam RAPBD yang akan disampaikan kepada legislatif. RAPBD kemudian dipelajari oleh panitia anggaran legislatif dan direspon oleh semua komisi dan fraksi dalam pembahasan anggaran.

Dalam pembahasan anggaran, eksekutif dan legislatif membuat kesepakatan-kesepakatan yang dicapai melalui bargaining (dengan acuan AKU dan SP) sebelum anggaran ditetapkan sebagai suatu peraturan daerah. Anggaran yang telah ditetapkan menjadi dasar bagi eksekutif untuk melaksanakan aktivitasnya dalam pemberian pelayanan publik dan acuan bagi legislatif untuk melaksanakan fungsi pengawasan dan penilaian kinerja eksekutif dalam hal pertanggungjawaban kepala daerah.

3. Hubungan Keagenan dalam Penganggaran Sektor Publik

Teori keagenan yang menjelaskan hubungan prinsipal dan agen berakar pada teori ekonomi, teori keputusan, sosiologi, dan teori organisasi. Teori keagenan menganalisis susunan kontraktual di antara dua atau lebih individu, kelompok, atau organisasi. Salah satu pihak (principal) membuat suatu kontrak, baik secara implisit maupun eksplisit, dengan pihak lain (agent) dengan harapan bahwa agen akan bertindak/melakukan pekerjaan seperti yang diinginkan oleh prinsipal. Lupia & McCubbins (2000) menyatakan: delegation occurs when one person or group, a principal, select another person or group, an agent, to act on the principal’s behalf. Menurut Ross (1973) contoh-contoh hubungan keagenan sangat universal.

Para teoretisi berpegang pada proposisi bahwa agents behave opportunistically toward principals. Carr & Brower (2000) menegaskan bahwa “opportunism implies that whenever cooperation among people requires one party (principal) to delegate responsibility to another (agency), losses due to to agent self-interest can be expected to result.” Sementara Elgie & Jones (2000) menyatakan adanya principal drift, yakni ketika prinsipal tidak mematuhi kesepakatan pendelegasian yang telah dibuat.

Hubungan prinsipal-agen terjadi whenever one individual’s actions have an effect on another individual atau whenever one individual depends on the action of another (Gilardi, 2001). Stiglitz (1999) menyatakan bahwa masalah keagenan terjadi pada semua organisasi, baik publik maupun privat. Menurut Lane (2003), “…the modern democratic state is based on a set of principal-agent relationships in the public sector.” Menurut Bergman & Lane (1990), principal-agent framework merupakan pendekatan yang menjanjikan untuk menganalisis komitmen kebijakan publik karena pembuatan dan pengimplementasiannya melibatkan persoalan kontraktual yang berkaitan dengan asimetri informasi, moral hazard, bounded rationality, and adverse selection. Menurut Andvig et al. (2001) principal-agent model sangat berguna dalam menjelaskan masalah insentif dalam institusi publik, karena du hal: (1) terdapat beberapa prinsipal dengan masing-masing tujuan dan kepentingan yang tidak koheren dan (2) prinsipal bisa berlaku korup dan tidak bertindak sesuai kepentingan masyarakat, tetapi mengejar kepentingannya sendiri.

Teori keagenan berfokus pada persoalan asimetri informasi: agents mempunyai informasi lebih banyak tentang kinerja aktual, motivasi, dan tujuannya yang sesungguhnya, yang berpotensi menciptakan moral hazard dan adverse selection7. Prinsipal sendiri harus mengeluarkan biaya (costs) untuk memonitor kinerja agents dan menentukan struktur insentif dan monitoring yang efisien (Petrie, 2002). Adanya asimetri informasi di antara eksekutif-legislatif dan legislatif-pemilih menyebabkan terbukanya ruang bagi terjadinya perilaku oportunistik dalam proses penyusunan anggaran, yang justru lebih besar daripada di dunia bisnis yang memiliki automatic checks berupa persaingan (Kasper & Streit, 1999).

—–

7 Petrie (2002) mendefinisikan moral hazard dan adverse selection sebagai berikut: moral hazard refers to the tendency of an agent, after the contract is entered into, to shirk or otherwise not fully seek to promote the principal’s interests. Adverse selection refers to the inability of a principal to determine, before the contract is entered into, which among several possible agents is most likely to promote the principal’s interests; and, given this imperfect information, the tendency for candidates with less than average motivation or qualifications to apply. Gilardi (2001) menyatakan adverse selection (or ex-ante opportunism, or hidden information) occurs whenever the principal cannot be sure that he is selecting the agent that has the most appropriate skills or preferences and moral hazard (or ex-post opportunism, or hidden action) occurs whenever the agent’s actions cannot be perfectly monitored by the principal. Pendapat lain: adverse selection meaning opportunism before the making of the contract between principal and agent, moral hazard meaning opportunism after the making of the contract between principal and agent (Lane, 2003b).

Menurut Moe (1984) dan Strom (2000), hubungan keagenan dalam penganggaran publik adalah antara (1) pemilih-legislatur, (2) legislatur-pemerintah, (3) menteri keuangan-pengguna anggaran, (4) perdana menteri-birokrat, dan (5) pejabat-pemberi pelayanan. Hal yang sama dikemukakan juga oleh Gilardi (2001),  yang melihat hubungan keagenan sebagai hubungan pendelegasian (chains of
delegation).

Studi tentang penganggaran publik dengan menggunakan konsep keagenan belum banyak dilakukan dan sering diperdebatkan. Smith & Bertozzi (1998) menyatakan bahwa

“Because implicit and explicit contractual relationship pervade the entire budget making process, principal-agent theory can make a major contribution toward developing more inclusive and accurate models of most stages of public budgeting… The application of principal-agent models by practitioners offers a more powerful analytic tool for both preparing and implementing public budget.”

a. Hubungan Keagenan Antara Eksekutif dan Legislatif

Dalam hubungan keagenan antara eksekutif dan legislatif, eksekutif adalah agen dan legislatif adalah prinsipal (Halim & Abdullah, 2006; Fozzard, 2001; Moe, 1984; Strom, 2000). Lupia & McCubbins (1994) menyatakan bahwa

the legislator’s problem can be characterized as one of a broad class of phenomena known as agency problems… In the legislative policy-making setting, a legislature as a whole acts as principal that delegates to an expert agent (such as the government or a congressional committee) the task of proposing alternatives to an existing policy. The principal-agent interaction in which we are interested begins after the agent makes a proposal and ends when the principal-the full legislature either accepts the proposal or rejects it in favor of the existing policy.”

Johnson (1994:5) menyebut hubungan eksekutif/birokrasi denganlegislatif/kongres dengan nama self-interest model. Legislators ingin dipilih kembali, birokrat ingin memaksimumkan anggarannya, dan konstituen ingin memaksimumkan utilitasnya. Agar terpilih kembali, legislators mencari program dan projects yang membuatnya popular di mata konstituen. Birokrat mengusulkan program-program baru karena ingin agency-nya berkembang dan konstituen percaya mereka menerima benefits dari pemerintah. Karena semua pihak dapat “bertemu” dalam action yang sama, maka konsensus di antara legislators dan birokrat merupakan keniscayaan, bukan pengecualian.

Sebagai prinsipal, legislatif dapat juga berperilaku moral hazard atau dalam merealisasikan self-interestnya (Elgie & Jones, 2001). Menurut Colombatto (2001), adanya discretionary power akan menimbulkan pelanggaran atas kontrak keagenan, dan karenanya dapat diprediksi bahwa semakin besar discretionary power yang dimiliki legislatif semakin besar pula kecenderungan mereka mengutamakan kepentingan pribadinya.

b. Hubungan Keagenan Antara Legislatif dan Publik (Voters)

Groehendijk (1997) menyatakan bahwa without doubt, the relationship between voters and politicians in a representative democracy can be considered to be a principal-agent relationship. Legislatif (politisi) adalah agen dan publik (pemilih) adalah prinsipal (Fozzard, 2001; Moe, 1984). Lupia & McCubbins (2000) dan Andvig et al. (2001) menyatakan bahwa citizens atau voters adalah prinsipal bagi perlemen. Mitchell (2000) lebih tegas menyatakan bahwa voters adalah the ultimate principals.

Von Hagen (2002) berpendapat bahwa hubungan keagenan antara voters- legislatif pada dasarnya menunjukkan bagaimana voters memilih politisi untuk membuat kebijakan publik bagi mereka dan mereka memberikan dana dengan membayar pajak. Dengan demikian, politisi diharapkan mewakili kepentingan prinsipalnya ketika legislatif terlibat dalam pengalokasian anggaran. Pada kenyataannya, legislatif tidak selalu memiliki preferensi yang sama dengan publik (Groehendijk, 1997). Oleh karena itu, Lupia & McCubbins (2000) mengingatkan bahwa pendelegasian memiliki konsekuensi terjadinya abdication, yakni agents are unconstrained by how their actions affect their principals. Persoalan abdication menjadi semakin nyata ketika tidak ada institusi formal yang berfungsi mengawasi kinerja legislatif.

Menurut Von Hagen (2002), sesungguhnya voters berkeinginan menghilangkan peluang oportunisme legislatif melalui suatu aturan yang menentukan apa harus mereka lakukan pada kondisi tertentu. Namun, membuat aturan untuk sesuatu yang tidak jelas dan tingginya kompleksitas situasi yang dihadapi menyebabkan kontrak yang sempurna sulit dibuat. Karenanya hubungan keagenan voters-politisi dapat dipandang sebagai incomplete contract (Seabright, 1996).

4. Peran Legislatif dalam Penganggaran

Selama dua dekade terakhir peran legislatur dalam pembuatan kebijakan publik dan penganggaran semakin meningkat (Schick, 2001). Dengan menggunakan tudi kasus pada empat agency, Johnson (1994) menemuka bahwa birokrasi merespon tekanan yang diberikan oleh legislatur dalam proses pembuatan kebijakan dan anggaran. Hyde & Shafritz (1978:324) menyatakan bahwa penganggaran adalah sebuah proses legislatif. Apapun yang dibuat eksekutif dalam proses anggaran, pada akhirnya tergantung pada legislatif karena legislatif mempunyai kekuasaan untuk mengesahkan atau menolak usulan anggaran yang diajukan eksekutif.

Dobell & Ulrich (2002) menyatakan bahwa peran penting legislatif adalah mewakili kepentingan masyarakat, pemberdayaan pemerintah, dan mengawasi kinerja pemerintah. Ketiga peran ini menempatkan legislatur berkemampuan memberikan pengaruh signifikan terhadap kebijakan pemerintah. Sementara menurut Havens (1996), tidak ada keharusan bagi legislatif untuk mempunyai preferensi yang sama dengan pemerintah atas kebijakan, termasuk anggaran.

Samuels (2000) menyebutkan ada dua kemungkinan perubahan yang dapat dilakukan oleh legislatif terhadap usulan anggaran yang diajukan oleh eksekutif, yaitu: pertama, merubah jumlah anggaran dan kedua, merubah distribusi belanja/pengeluaran dalam anggaran. Mengikuti urutan legislative power yang umum berlaku, beberapa kemungkinan yang bisa terjadi adalah:

(1) The legislature cannot increase spending or the deficit, but can decrease spending or raise revenue; (2) the legislature requires Presidential approval before final passage to increase spending; (3) the legislature cannot increase the deficit, but can increase spending if increases revenue; and (4) the legislature can increase or decrease spending or revenue without restriction. (Samuels, 2000).

Di Indonesia, penyusunan usulan anggaran atau rancangan APBD oleh eksekutif didasarkan pada arah dan kebijakan umum (AKU) dan strategi dan prioritas (SP) yang diturunkan dari rencana strategis daerah (Renstrada). AKU dan SP dinyatakan dalam sebuah nota kesepakatan antara eksekutif dan legislatif. Pada tahap formulasi relatif tidak terjadi konflik antara eksekutif dan legislatif, sementara pada tahap berikutnya, yakni ketika rancangan anggaran diusulkan menjadi anggaran yang ditetapkan biasanya harus melalui perdebatan dan negosiasi di antara kedua belah pihak.

Dalam penganggaran di beberapa daerah di Indonesia terjadi konflik antara legislatif dengan pemerintah. Sebagai contoh dalam hal (1) penyusunan APBD, terutama pada pos anggaran belanja untuk DPRD, (2) kedudukan keuangan DPRD terhadap PAD, (3) kedudukan protokoler anggota DPRD beserta fasilitas- fasilitasnya, dan (4) pembahasan laporan pertanggungjawaban tahunan kepala daerah (Yudoyono, 2003:39). Abdullah (2004) menemukan bahwa DPRD mempunyai preferensi berbeda dengan eksekutif atas jumlah anggaran untuk pendidikan, kesehatan dan pekerjaan umum. Anggaran belanja bidang pekerjaan umum diusulkan lebih tinggi, sementara belanja pendidikan dan kesehatan lebih rendah.

5. Oportunisme Legislatif dalam Penganggaran

Teori prinsipal-agen menjelaskan bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam proses penyusunan anggaran memiliki kecenderungan untuk memaksimalkan utilitasnya melalui pengalokasian sumberdaya dalam anggaran yang ditetapkan (Magner & Johnson, 1995). Eksekutif atau agency yang menjadi pengusul anggaran dan juga pelaksana atau pengguna dari anggaran tersebut berupaya untuk memaksimalkan jumlah anggaran (Smith & Bertozzi, 1998). Di sisi lain, publik memilih politisi untuk membuat keputusan tentang penggunaan sumberdaya bagi mereka di pemerintahan sehingga belanja publik sesungguhnya adalah cerita tentang beberapa politisi yang menghabiskan uang orang lain (Von Hagen, 2002).

Politisi dapat memanfaatkan posisinya untuk memperoleh rents. Manipulasi politis atas kebijakan publik menyebabkan pengalokasian sumberdaya dalam anggaran tidak efektif dan efisien. Politisi sebagai agen publik berlaku shirking karena adanya asimetri informasi dan konflik kepentingan dengan konstituennya. Menurut Garamfalvi (1997), politisi menggunakan pengaruh dan kekuasaan untuk menentukan alokasi sumberdaya, yang akan memberikan keuntungan pribadi kepada politisi. Martinez-Vasquez et al. (2004) menyatakan bahwa

“Political corruption arises when politicians or senior-level bureaucrats are able to capture the state apparatus for their own private benefit or for the benefit of those close to them. Political corruption does not regularly involve the direct execution of openly illegal or fraudulent activities, but rather the use of political power to influence the resource allocation process or the regulatory framework so that private gains are obtained as a result of public power under the veil of “legal” means.”

Teori ekonomi dan common sense menunjukkan bahwa jenis-jenis belanja pemerintah membuka peluang untuk lucrative opportunities (Mauro, 1998a). Isu-isu penting dalam pengalokasian sumberdaya ke dalam belanja publik adalah (1) rent-seeking behavior (Krueger, 1974) dan (2) pemilihan barang atau pelayanan untuk program-program yang sulit untuk dimonitor orang lain (Mauro, 1998a; 1998b).  Misalnya, belanja untuk barang-barang khusus dan berteknologi tinggi merupakan contoh belanja yang mudah dikorupsi karena tidak banyak atau tidak ada orang yang memahami barang tersebut (Shleifer & Vishny, 1993).

Martinez-Vazquez et al. (2004) memberikan argumen tentang motivasi/insentif dan peluang korupsi dalam sisi belanja anggaran pemerintah. Insentif korupsi adalah kurangnya standar etika dan moral, kemungkinan terdeteksi yang rendah, pengawasan dan sanksi yang lemah, atau ketidakcukupan gaji dan insentif lainnya. Mereka menyatakan bahwa seorang politisi yang berpengaruh cenderung mendukung proyek tertentu bukan karena prioritas atas kegiatan tersebut, tetapi karena suap yang akan diperoleh atau keuntungan untuk dirinya sendiri.

Sektor pendidikan dan kesehatan merupakan dua sektor pelayanan publik paling penting dipenuhi oleh pemerintah (Ablo & Reinikka, 1998) sehingga alokasi anggaran untuk kedua sektor ini relatif besar dibanding sektor lain. Mardiasmo (2002) menyatakan bahwa pendidikan dan kesehatan merupakan bentuk pelayanan publik yang paling mendasar dan karenanya menjadi fokus utama pembelaan legislatif di pemerintahan. Namun, belanja untuk pendidikan dan kesehatan bukanlah area yang dapat memberikan peluang untuk korupsi sehingga anggaran pendidikan, kesehatan, dan sosial akan diperkecil (Gupta et al., 2002; Mauro, 1998a; Schiavo-Campo, 1999).

Feyzioglu et al. (1998) menemukan bahwa ketika bantuan luar negeri ditujukan untuk peningkatan kualitas pendidikan, pemerintah akan menggeser alokasi dana yang sebelumnya sudah disiapkan untuk sektor pendidikan ke sektor lain. Namun, ketika bantuan tersebut ditujukan untuk mendukung investasi publik, pemerintah tetap mempertahankan alokasi dana yang telah disiapkan untuk investasi tersebut.

Hasil penelitian Tanzi & Davoodi (2002) memberi bukti tentang perilaku oportunistik politisi dalam pembuatan keputusan investasi publik. Karena capital spending is highly descretionary, para politisi membuat keputusan-keputusan terkait dengan (1) besaran anggaran investasi publik, (2) komposisi anggaran investasi publik tersebut, (3) pemilihan proyek-proyek khusus dan lokasinya, dan (4) besaran
rancangan setiap proyek investasi publik. Keputusan tersebut terkait dengan pemberian kontrak kepada pihak luar, yang dapat menghasilkan aliran rente berupa commissions.8

——

8 Commissions merupakan eufemisme dari suap (bribe) (Tanzi & Davoodi, 2002).

Oleh karena itu, korupsi sangat berpengaruh terhadap keputusan alokasi anggaran untuk capital projects (Tanzi & Davoodi, 2002). Akibatnya korupsi akan meningkatkan jumlah, besaran dan kompleksitas proyek, sehingga menyebabkan (1) pembesaran rasio investasi publik terhadap GDP, (2) penurunan produktifitas investasi publik tersebut, (3) pengurangan alokasi untuk belanja pelayanan publik lainnya, seperti operasi dan pemeliharaan, pendidikan, dan kesehatan, dan (4) penurunan dalam pertumbuhan ekonomi.

Representasi politik yang tidak layak dan institusi yang lemah mengakibatkan banyak peluang untuk melakukan political corruption. Menurut Camarer (1997) tindakan korup tidak demokratis. Beberapa faktor institusional dapat memberi peluang bagi terjadinya political corruption ini, yakni: (1) adanya discretionary systems dalam pembuatan keputusan dan kurangnya mekanisme perencanaan partisipatif; (2) ketidaklengkapan dalam formulasi anggaran; dan (3) ketiadaan regulasi mengenai rent-seeking (Martinez-Vasquez et al., 2004).

Kecenderungan misalokasi dalam pengeluaran pemerintah merupakan bagian dari pertarungan politik di antara politisi, yang tidak pernah menguntungkan kaum miskin. Ketika keputusan pengalokasian dibuat, motivasi terhadap preferensi pengeluaran terkait dengan moral hazard legislatif. Preferensi legislatif adalah pada proyek infrastruktur karena lebih mudah digunakan sebagai bentuk pemenuhan atas janji kepada voters-nya (Keefer & Khemani, 2003).

Sektor pendidikan dan kesehatan merupakan kebutuhan dasar rakyat yang semestinya diberikan oleh pemerintah dan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi (Davoodi et al., 2003; Gupta et al., 2002), sehingga keberpihakan legislatif kepada sektor ini merupakan keniscayaan. Penjelasan teoretis atas ketidakberpihakan legislatif pada sektor-sektor tersebut dapat dilihat dari konsep hubungan keagenan karena anggota parlemen memiliki kecenderungan menciptakan rente (rent creation).9 Mauro (1998a, 1998b) dan Tanzi & Davoodi (2002) menemukan bahwa anggaran untuk investasi publik lebih disukai karena
dapat memberikan komisi lebih besar daripada belanja untuk pelayanan sosial, pendidikan, dan kesehatan. Preferensi legislatif mengarah pada alokasi belanja yang dapat memberikan rente lebih besar. Artinya, kecenderungan legislatif untuk lebih prefer pada alokasi belanja modal merupakan realisasi dari self-interest mereka.

———-
9 Kasper & Streit (2001:326) membuat definisi penciptaan rente sebagai berikut: “rent creation is a political activity by parliamentarians and bureaucrats to allocate ‘rents’, that is, incomes that are not obtained by competitive effort in the market. They derive from political privilege for private supporters or organised groups of supporters of political elites. Typically, political intervention redistributes property rights from the unorganised many to the organised few, who are then able to share their rents with the intervening agents of government. It is the mirror image of rent-seeking.”Perubahan posisi legislatif yang menjadi powerful10 menyebabkan legislatif memiliki power untuk merubah usulan anggaran yang diajukan eksekutif. Legislatif yang memiliki hak untuk meminta pertanggungjawaban dan mengadakan penyelidikan11 terhadap eksekutif menjadi sangat berwibawa dalam proses anggaran. Artinya, legislatif sebagai agen dari publik berpeluang melakukan moral hazard (Von Hagen, 2002). Ini penyalahgunaan discretionary power dengan melanggar kesepakatan (agreement) yang telah dibuat (Colombatto, 2001).12

———-

10 UU 22/1999 menempatkan DPRD pada posisi yang kuat, relatif terhadap eksekutif. Bunyi pasal 22(3): “Dalam menjalankan tugas dan kewenangan selaku kepala daerah, bupati/walikota bertanggungjawab kepada DPRD kabupaten/kota.” Bunyi pasal 19(1): “DPRD mempunyai hak: (a) meminta pertanggungjawaban gubernur, bupati dan walikota; (b) meminta keterangan kepada pemerintah daerah; (g) menentukan anggaran DPRD.”
11 Pasal 19(1c) UU 22/1999.
12 Beberapa kasus selama autonomi daerah dilaksanakan di Indonesia telah disidangkan di Pengadilan Negeri dengan terdakwa anggota legislatif dan eksekutif. Terjadinya penyalahgunaan anggaran dapat diartikan sebagai konsekuensi dari keputusan dalam penganggaran yang mengarah pada peluang dilakukannya korupsi.

Stiglitz (1999) menyatakan bahwa sumber dana mempengaruhi kehati-hatian seorang agent dalam membuat kebijakan penggunaannya. Dalam hubungan antarpemerintah, perilaku ini disebut flypaper effect (Moisio, 2002), yakni adanya perbedaan respons belanja atas sumber pendapatan atau penerimaan pemerintah. Dalam konteks peran legislatif dalam penganggaran, adanya motif self-interest akan mempengaruhi pengalokasian dana di dalam anggaran.

6. Hipotesis Penelitian

a. Perilaku Oportunistik Legislatif dalam Pengalokasian Belanja

Terjadinya misalokasi dalam anggaran belanja pemerintah terkait dengan perilaku oportunistik politisi dan aparat pemerintah. Besarnya kewenangan legislatif dalam proses penyusunan anggaran (UU 22/1999) membuka ruang bagi legislatif untuk “memaksakan” kepentingan pribadinya.13 Posisi legislatif sebagai pengawas bagi pelaksanaan kebijakan pemerintah daerah, dapat digunakan untuk
memprioritaskan preferensinya dalam penganggaran.

———

13 Penggunaan istilah “atas nama rakyat” dalam pembuatan kebijakan oleh legislatif merupakan kelaziman yang sering digunakan untuk kepentingan pribadi anggota legislatif. Masalah abdikasi semakin besar ketika asimetri informasi semakin tinggi antara legislatif dan publik ketika tidak ada mekanisme akuntabilitas legislatif kepada publik. Di Indonesia belum ada aturan yang mengatur mekanisme dimaksud.

Untuk merealisasikan kepentingan pribadinya, politisi memiliki preferensi atas alokasi yang mengandung lucrative opportunities dan memiliki dampak politik jangka panjang. Oleh karena itu, legislatif akan merekomendasi eksekutif untuk menaikkan alokasi pada sektor-sektor yang mendukung kepentingannya. Legislatif cenderung mengusulkan pengurangan atas alokasi untuk pendidikan, kesehatan, dan belanja publik lainnya yang tidak bersifat job programs dan targetable. Preferensi legislatif ini memiliki tiga kemungkinan konsekuensi pada belanja sektor lain, yakni: (1) mengurangi alokasi untuk belanja lain apabila jumlah belanja secara keseluruhan tidak bertambah; (2) tidak merubah alokasi sektor lain jika jumlah belanja bertambah; atau (3) kombinasi keduanya, yakni alokasi untuk sektor lain berkurang walaupun jumlah belanja secara keseluruhan bertambah. Berdasarkan landasan teoretis dan hasil-hasil penelitian yang telah dikemukakan sebelumnya, hipotesis yang akan diuji dinyatakan sebagai berikut:

H1: Legislatif berperilaku oportunistik dalam penganggaran daerah.

b. Pengaruh Pendapatan Sendiri terhadap Perilaku Oportunistik Legislatif

Secara konseptual, perubahan pendapatan akan berpengaruh terhadap belanja atau pengeluaran, namun tidak selalu seluruh tambahan pendapatan tersebut akan dialokasikan dalam belanja.14 Secara empiris juga ditemukan adanya flypaper effect (Moisio, 2002), yakni adanya perbedaan dalam pola pengeluaran untuk pendapatan dari effort sendiri dengan pendapatan yang diberikan pihak lain (seperti grants atau transfer).

——–

14 PP 105/2000 menyatakan bahwa pendekatan anggaran yang digunakan adalah anggaran surplus-defisit, yakni jumlah pendapatan tidak harus sama dengan jumlah belanja, dan ada komponen pembiayaan dalam pelaksanaan operasional pemerintah daerah. Artinya, jika pendapatan tidak dapat menutupi seluruh belanja, maka bisa dicarikan sumber penerimaan lain melalui pembiayaan, seperti pinjaman, penjualan aset yang dipisahkan, sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu, dan sebagainya. Sebaliknya, jika pendapatan lebih besar dari belanja, terjadi surplus, maka selisihnya akan dimasukkan ke dalam pembiayaan, misalnya untuk membayar hutang, membentuk dana cadangan, menjadi sisa perhitungan anggaran tahun berjalan, dan sebagainya.

PP 110/2000 secara tidak langsung memberi motivasi kepada legislatif untuk membuat misalokasi anggaran belanja ketika besaran alokasi belanja untuk legislatif dikaitkan dengan kemampuan keuangan daerah (diukur dari besaran PAD). Oleh karena itu, kenaikan PAD berpengaruh positif terhadap alokasi untuk DPRD.15 Pelaksanaan PP 110/2000 senidiri tidak berjalan dengan baik. Peraturan ini sering dilanggar dan justru digunakan sebagai pembenaran untuk mengalokasikan anggaran legisltif yang lebih besar. Hasil penelitian Jaya (2005) menunjukkan bahwa legislatif mengalokasikan dana untuk kepentingan mereka melebihi jumlah yang diperbolehkan dalam peraturan tersebut.

——-

15 Akan tetapi, revisi atau penggantian PP 110/2000 dengan PP 24/2004 “mempersempit” ruang bagi legislatif untuk memaksimumkan utilitasnya melalui kenaikan anggaran PAD karena alokasi untuk legislatif tidak lagi dikaitkan secara langsung dengan PAD.

Studi Abdullah (2004) menemukan adanya perbedaan preferensi antara eksekutif dan legislatif dalam pengalokasian spread PAD ke dalam belanja sektoral. Alokasi untuk infrastruktur dan DPRD mengalami kenaikan, tapi alokasi untuk pendidikan dan kesehatan justru mengalami penurunan. Abdullah (2004) menduga power legislatif yang sangat besar menyebabkan diskresi atas penggunaan spread PAD tidak sesuai dengan preferensi publik. Temuan ini mengkonfirmasi pendapat Colombatto (2001). Berdasarkan landasan teoretis dan temuan-temuan empiris di atas, hipotesis alternatif kedua dapat dinyatakan seperti berikut:

H2: Pendapatan sendiri berpengaruh terhadap perilaku oportunistik legislatif.

C .METODA-METODA PENELITIAN

1. Sampel dan Data Penelitian

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah legislatif kabupaten/kota di Indonesia, yang dalam proses penyusunan anggaran sudah menggunakan format RAPBD dan APBD tahun 2003 dan 2004 sesuai dengan Kepmendagri 29/2002. Data yang dianalisis dalam studi ini adalah data sekunder, yang bersumber dari dokumen RAPBD dan APBD, yang diperoleh dengan cara mengirimkan formulir/daftar isian kepada kepala bagian keuangan, pegawai daerah, kepala daerah, dan sekretariat DPRD kabupaten/kota di Indonesia. Melalui formulir ini diperoleh data mengenai jumlah PAD dan alokasi belanja (DPRD, pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum).

2. Definisi Operasional Variabel-Variabel Penelitian

Variabel terikat (dependent variable) dalam studi ini adalah perilaku oportunistik legislatif dalam penganggaran (OL). Ada dua tahap pengukuran OL, yakni (1) menghitung spread anggaran pendidikan (ΔPdk), kesehatan (ΔKes), pekerjaan umum (ΔPU), dan anggaran DPRD (ΔLeg) dan (2) mengakumulasikan ΔPdk, Δkes, ΔPU, dan ΔLeg. Perhitungan OL adalah OL = ΔPdk + ΔKes + ΔPU + ΔLeg, dengan ΔPdk adalah perubahan turun atau berkurangnya anggaran pendidikan, ΔKes adalah berkurangnya anggaran untuk bidang kesehatan, ΔPU adalah meningkatnya anggaran untuk pekerjaan umum (infrastruktur), dan ΔLeg adalah perubahan meningkatnya anggaran DPRD, semua dari RAPBD ke APBD. Jika anggaran pendidikan dan kesehatan tidak turun, atau anggaran PU dan legislatif tidak naik, maka diberi skor 0 (nol). Skor untuk OL adalah angka positif.

Variabel bebas yang mempengaruhi perilaku oportunistik legislatif adalah sumber pendapatan berupa pendapatan sendiri yang diukur dengan spread pendapatan asli daerah (PPAD). Variabel kontrol yang digunakan adalah jenis dan letak pemerintah daerah. Jenis pemerintah daerah (JPEM) adalah kabupaten dan kota (kota 0, kabupaten 1), sementara letak pemerintah daerah (LPEM) adalah Jawa- Bali (0) dan luar Jawa-Bali (1).

3. Alat Analisis Data

Analisis data dalam studi ini menggunakan regresi dengan variabel terikat tingkat perilaku oportunistik legislatif (OL) dan variabel bebas sumber pendapatan daerah (PPAD). Dua variabel kontrol yang digunakan adalah jenis pemerintahan daerah (JPEM) dan letak pemerintahan daerah (LPEM).

D. ANALISIS HASIL

1. Statistik Deskriptif

Sampel dalam penelitian ini adalah 53 kabupaten dan kota di Indonesia dengan 95 observasi karena ada beberapa kabupaten/kota yang menyumbangkan observasi dua tahun (lihat Lampiran 1). Deskripsi data dapat dijelaskan sebagai berikut. Nilai perubahan PAD (PPAD) terkecil adalah Rp3.400.000 dan tertinggi Rp8.259.150.000 dengan rata-rata sebesar Rp1.112.705.449 (simpangan baku sebesar Rp1.378.237.737,52). Nilai oportunistik legislatif (OL) minimum adalah Rp397.440.000 dan maksimum Rp220.114.775.900 dengan rata-rata Rp27.191.607.399 (simpangan baku sebesar Rp42.437.886.441,59). Sedangkan data untuk jenis pemerintah daerah (JPEM) dan letak pemerintah daerah (LPEM) adalah variabel kategorikal (dummy), yang diberi skor 0 dan 1. (lihat Tabel 4.1)

0t1

2. Analisis Regresi

a. Regresi 1: Pengaruh Pendapatan Sendiri Terhadap Oportunisme Legislatif

Pendapatan sendiri, yang diukur dengan spread pendapatan asli daerah (PPAD) merupakan seumber penerimaan daerah yang dapat dialokasikan untuk kegiatan pelayanan publik. Di dalam PP No. 110/2000 dinyatakan bahwa anggaran untuk legislatif didasarkan pada besaran jumlah PAD, sehingga dalam pembahasan anggaran anggota DPRD sangat berkepentingan dengan jumlah anggaran atau target PAD ini. Dengan menganggarkan target PAD yang lebih besar maka anggaran untuk kegiatan DPRD juga akan semakin besar. Hasil regresi atas PPAD terhadap OL disajikan dengan persamaan berikut:

OL = 2754873424.290 + 21.962PPAD

t-value                     0,697                    9,813*
sig. value                0,487                    0,000*
F-value     96,296     R = 0,713          R2=0,509      Adj.R2 = 0,503

Persamaan regresi di atas menunjukkan bahwa perubahan PAD (PPAD) berpengaruh signifikan terhadap perilaku oportunistik legislatif (OL) pada derajat signifikansi 5%. Hasil ini juga dikonfirmasi dengan nilai t-value sebesar 9,813. Koefisien regresi untuk variabel bebas PPAD sebesar 21.962 menunjukkan bahwa perubahan PAD sebesar satu satuan akan menyebabkan perubahan dalam alokasi untuk pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan umum sebesar 21.962 kali dari perubahan PAD tersebut. Hal ini bermakna bahwa penurunan anggaran pendidikan dan kesehatan menunjukkan oportunisme legislatif, begitu pula kenaikan anggaran untuk infrastruktur dan legislatif.

Pengaruh signifikan variabel pendapatan sendiri ini memberi dukungan pada hipotesis alternatif H1: Legislatif berperilaku oportunistik dalam pengalokasian sumberdaya di anggaran belanja. Pembuktian secara empiris hipotesis ini merupakan konfirmasi atas dugaan apriori adanya upaya legislatif mempengaruhi keputusan alokasi anggaran belanja di APBD untuk memenuhi kepentingan pribadinya, seperti diduga oleh Keefer & Khemani (2003, 2004), Mauro (1998a, 1998b), Garamfalvi (1997), dan Martinez-Vasquez et al. (2004).

Hipotesis alternatif (Ha) kedua, H2: Perubahan pendapatan sendiri berpengaruh positif terhadap perilaku oportunistik legislatif, juga tidak dapat ditolak. Bahwa PAD merupakan “jalan” bagi legislatif untuk melakukan political corruption dalam kerangka regulasi yang sah (legal corruption) dapat dibuktikan ketika perubahan atau kenaikan anggaran atau target PAD digunakan sebagai dasar untuk melakukan alokasi tambahan belanja.

Meski secara keseluruhan kontribusi PAD terhadap penerimaan daerah dalam APBD tidak besar (maksimal sekitar 9%), kenaikan yang terjadi dapat memberikan peluang bagi legislatif untuk pemenuhan kepentingannya, terutama kepentingan politis seperti untuk menepati janji kampanye dan untuk terpilih kembali pada periode berikutnya. PAD pada akhirnya menjadi buah simalakama ketika masyarakat dibebani dengan pajak dan retribusi yang tinggi sementara pengalokasiannya hanya menguntungkan pihak atau kelompok tertentu (pork-barell spending).

b. Regresi 2: Pengaruh Pendapatan Sendiri, Jenis Pemerintah Daerah, dan Letak Pemerintah Daerah Terhadap Perilaku Oportunistik Legislatif

Analisis atas pengaruh jenis dan letak pemerintah daerah dalam penelitian ini perlu untuk memberikan bukti bahwa intensitas oportunisme legislatif berkaitan dengan status daerah sebagai kota atau kabupaten dan berada di pulau Jawa/Bali atau di luar pulau Jawa/Bali. Pandangan bahwa perilaku oportunistik legislatif di luar Jawa/Bali lebih besar dari pada di Jawa/Bali bersumber dari anggapan bahwa social control dari stakeholders di luar pemerintahan terhadap pelaksanaan pelayanan publik dan perilaku anggota legislatif tidak sebaik di Jawa/Bali. Misalnya, di Jawa/Bali gerakan mahasiswa dan pers sangat efektif dalam mengungkap berbagai penyimpangan anggaran untuk mendorong aparat penegak hukum menindaklanjuti berbagai laporan tentang korupsi dan yang terjadi di lingkungan pemerintahan daerah. Hal yang sama juga terjadi di pemerintahan kabupaten dan kota, dimana perbedaan karakteristik masyarakat dan struktur pendapatan berimplikasi pada kontrol sosial yang berbeda pula.

Untuk mengetahui pengaruh jenis jenis pemerintah daerah (JPEM) dan letak pemerintah daerah (LPEM) terhadap perilaku oportunistik legislatif (OL), maka variabel JPEM dan LPEM dimasukkan ke dalam regresi 1 di atas bersama variabel pendapatan sendiri (PPAD). Hasil regresi yang diperoleh dapat digambarkan seperti berikut:

OL = 6700872008 + 21.601PPAD – 8749341666JPEM + 5810138774LPEM

t-value                        0,615                  8,538*                -1,017                     0,870

Sig. value                  0,540                  0,000*                0,312                      0,387
F-value      32,977           R = 0,722                 R2=0,521           Adj.R2 = 0,505

Dari persamaan di atas dapat dilihat besaran nilai t untuk variabel JPEM dan LPEM tidak signifikan secara statistik. Hal ini bermakna bahwa jenis pemerintah dan letak pemerintah tidak berpengaruh terhadap perilaku oportunistik legislatif . Sementara variabel PPAD, sama seperti dalam regresi sebelumnya, berpengaruh signifikan terhadap perilaku oportunistik legislatif pada signifikansi (α) 5%.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perilaku oportunistik yang diperlihatkan legislatif dalam proses penyusunan anggaran tidak berbeda antara legislatif di kota dengan di kabupaten dan antara legislatif di Jawa/Bali dengan di luar Jawa/Bali. Artinya, oportunisme melalui anggaran, apakah disebut pencarian rente (rent-seeking) ataupun korupsi, dilakukan oleh legislatif di seluruh Indonesia, baik di Jawa/Bali maupun di luar Jawa/Bali, baik oleh legislatif di pemerintahan kabupaten maupun di pemerintahan kota.

E. SIMPULAN DAN REKOMENDASI

1. Simpulan

Ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari hasil analisis data dalam penelitian ini.

Pertama, legislatif melakukan political corruption melalui realisasi discretionary power yang dimilikinya dalam penganggaran. Hal ini terjadi karena legislatif memanfaatkan celah yang ada dalam UU 22/1999 dan PP 110/2000.

Kedua, DPRD membuat keputusan anggaran melalui penggunaan kenaikan anggaran PAD sebagai sumber pembiayaan untuk usulan kegiatan baru. Ketiga, perilaku oportunistik legislatif seakan-akan didukung oleh perangkat peraturan perundang-undangan yang berlaku. UU 22/1999 dan PP 110/2000 seolah-olah melegitimasi tindakan legislatif untuk merubah alokasi yang diusulkan eksekutif melalui pemberian kewenangan yang sangat besar atas pemilihan dan pemberhentian kepala daerah. Keempat, pengalokasian anggaran yang diusulkan legislatif, dengan demikian, tidak didasarkan pada prioritas anggaran. Kelima, dengan demikian, APBD digunakan oleh legislatif sebagai alat untuk memenuhi kepentingan pribadinya.

2. Rekomendasi

Simpulan di atas memberikan beberapa implikasi bagi pembuatan kebijakan dan studi empiris pada masa yang akan datang. Secara garis besar, rekomendasi yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

  • Sebelum pembuatan kebijakan tentang otonomi daerah, khususnya tentang kedudukan keuangan legislatif, sebaiknya Pemerintah melakukan studi awal dari banyak aspek kemasyarakatan, seperti sosiologi, psikologi, ekonomika publik, kebijakan publik, dan penganggaran publik. Hal ini untuk menghindari terjadinya mispersepsi dan misinterpretasi atas berbagai peraturan perundang-undangan oleh aparatur pemerintahan daerah (eksekutif dan legislatif).
  • Pengukuran perilaku oportunistik dalam penelitian ini diturunkan dari pemahaman yang digali dari studi-studi sebelumnya (terutama Keefer & Khemani, 2003, 2004; Mauro, 1998a, 1998b). Pengukuran lain dapat digunakan, misalnya seperti dalam penelitian Allard (1995). Mengingat pengukuran perilaku merupakan sesuatu yang bersifat multidimensi, maka pengembangan proksi masih mungkin dilakukan (misalnya pengukuran Allard, 1995).
  • Bagi penelitian mendatang berbagai variabel bebas baru dapat dimasukkan. Misalnya: besaran legislatur (legislature size), sumber pendanaan selain PAD (seperti dana perimbangan, hutang/pinjaman, dan pembiayaan lainnya), besaran pemerintah, dan perubahan kebijakan pemerintah pusat (misalnya perubahan UU 22/1999 ke UU 32/2004 dan perubahan PP 110/2000 ke PP 24/2004 dan PP 37/2005).
  • Pada dasarnya persepsi dan sikap akan mempengaruhi keputusan legislatif dalam pengalokasian anggaran. Persepsi bahwa eksekutif melakukan moral hazard atas keunggulan informasi yang dimilikinya akan mendorong legislatif untuk menggunakan discretionary power untuk mengantisipasinya. Dalam hal ini perlu digali lebih jauh bagaimana aspek persepsi berperan dalam pembuatan keputusan pengalokasian anggaran.

F. DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Syukriy. 2004. Perilaku oportunistik legislatif dalam penganggaran daerah: Pendekatan principal-agent theory. Makalah disajikan pada Seminar Antarbangsa di Universitas Bengkulu, Bengkulu, 4-5 Oktober 2004.

Ablo, Emmanuel & Ritva Reinikka. 1998. Do budget really matter? Evidence from public spending on education and health care in Uganda. World Bank, Policy Research Paper 1926.

Allard, Richard J. 1995. The measurability of budget related rent-seeking. Public Choice 85: 389-394.

Andvig, Jens Chr., Odd-Helge Fjeldstad, Inge Amundsen, Tone Sissener & Tina Søreide. 2001. Corruption: A review of contemporary research. Chr. Michelsen Institute Development Studies and Human Rights Report R 2001: 7. Web: http//www.cmi.no.

Camarer, L. 1997. Poverty and corruption in South Africa: Government corruption in poverty alleviation programs.http//www.gov.za/reports/1998/poverty/corruption.pdf.

Carr, Jered B. & Ralph S. Brower. 2000. Principled opportunism: Evidence from the organizational middle. Public Administration Quarterly (Spring): 109-138.

Christensen, Jorgen Gronnegard. 1992. Hierarchical and contractual approaches to budgetary reform. Journal of Theoretical Politics 4(1): 67-91.

Colombatto, Enrico. 2001. Discretionary power, rent-seeking and corruption. University di Torino & ICER, working paper.

Davoodi, Hamid R., Erwin R. Tiongson, & Sawitree S. Asawanuchit. 2003. How useful are benefit incidence analyses of public education and health spending? IMF Working Paper WP/03/227.

Deller, Steven, Craig Maher, & Victor Lledo. 2002. Wisconsin local government, state shared revenues and the illusive flypaper effect. University of Wisconsin-Madison, working paper.

Devarajan, Shantayanan, Vinaya Swaroop, & Heng-fu Zou. 1996. The composition of public expenditure and economic growth. Journal of Monetary Economics 37: 313-344.

Dobell, Peter & Martin Ulrich. 2002. Parliament’s performance in the budget process: A case study. Policy Matters 3(2): 1-24. http://www.irpp.org.

Eisenhardt, Kathleen M. 1989. Agency theory: An assessment and review. Academy of Management Review 14(1): 57-74.

Elgie, Robert & Erik Jones. 2000. Agents, Principals and the Study of Institutions: Constructing a Principal-Centered Account of Delegation. Working documents in the Study of European Governance Number: 5. Center for the Study of European Governance (CSEG).

Feyzioglu, Tarhan, Vinaya Swaroop, & Min Zhu. 1998. A panel data analysis of the fungibility of foreign aid. World Bank Economic Review 12(1): 29-58.

Fozzard, Adrian. 2001. The basic budgeting problem: Approaches to resource allocation in the public sector and their implications for pro-poor budgeting. Center for Aid and Public Expenditure, Overseas Development Institute (ODI). Working paper 147.

Freeman, Robert J. & Craig D. Shoulders. 2003. Governmental and Nonprofit Accounting–Theory and Practice. Seventh edition. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.

Garamfalvi, L. 1997. Corruption in the public expenditures management process. Paper presented at 8th International Anti-Corruption Conference, Lima, Peru, 7-11 September. http://www.transparency.org/iacc/8th_iacc/papers/garamfalvi/garamfalvi.html.

Gilardi, Fabrizio. 2001. Principal-agent models go to Europe: Independent regulatory agencies as ultimate step of delegation. Paper presented at the ECPR General Conference, Canterbury (UK), 6-8 September 2001.

Groehendijk, Nico. 1997. A principal-agent model of corruption. Crime, Law & Social Change 27: 207-229.

Gupta, Sanjeev, Hamid Davoodi, & Erwin R. Tiongson. 2002. Corruption and the provision of health care and education services, dalam Abed, George T. & Sanjeev Gupta (eds.). 2002. Governance, Corruption, & Economic Performance. Washington, D.C.: International Monetary Fund.

Hagen, Terje P., Rune J. Sorensen, & Oyvind Norly. 1996. Bargaining strength in budgetary process: The impact of institutional procedures. Journal of Theoretical Politics 8(1): 41-63.

Halim, Abdul. 2002. Analisis varian pendapatan asli daerah dalam laporan perhitungan anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota di Indonesia. Universitas Gadjah Mada. Disertasi.

Halim, Abdul & Syukriy Abdullah. 2006. Hubungan dan masalah keagenan di pemerintahan daerah: sebuah peluang penelitian anggaran dan akuntansi. Jurnal Akuntansi Pemerintah 2(1): 53-64.

Havens, Harry S. 1996. Budgeting and policy-making by the legislature in the United States. Budgeting and Policy Making SIGMA Papers No. 8, Organisation for Economic Co-operation and Development.

Hyde, Albert C. & Jay M. Shafritz. (Eds.) 1978. Government Budgeting: Theory, Process, and Politics. Oak Park, Illinois: Moore Publishing Company, Inc.

Imbeau, Louis M. 2003. Transparency in the budget process of a bureaucratic organization: A principal-agent model of budgeting. Paper presented at the annual conference of the European Public Choice Society Aarhus, 26-28 April 2003.

Jackson, P. M. 1982. The Political Economy of Bureaucracy. Oxford: Philip Allan.

Jaya, Wihana Kirana. 2005. Dysfunctional institutions in the case of local elite behaviour in decision-making about local government budgets in Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia 20(2): 120-135.

Johnson, Cathy Marie. 1994. The Dynamics of Conflict between Bureaucrats and Legislators. Armonk, New York: M.E. Sharpe.

Kasper, Wolfang & Manfred E. Streit. 2001. Institutional Economics: Social Order and Public Policy. Cheltham, UK: Edward Elgar.

Keefer, Philip & Stuti Khemani. 2003. The political economy of public expenditures. Background paper for WDR 2004: Making Service Work for Poor People. The World Bank.

_________ & _________. 2004. Democracy, public expenditure and the poor. World Bank Research Observer (forthcoming).

Key, V.O. 1940. The lack of budgetary theory. American Political Science Review 34 (December), dalam Shafritz, Jay M. & Albert C. Hyde. 1997. Classics of Public Administration. Fourth edition. Fort Worth: Harcourt Brace College Publisher.

Khan, Mushtaq H. & Jomo Kwame Sundaram (Eds.). 2000. Rents, Rent-Seeking and Economic Development –Theory and Evidence in Asia. Singapore: Cambridge University Press.

Krueger, A. 1974. The Political Economy of the Rent-Seeking Society. American Economic Review 64 (3), 291–303.

Lane, Jan-Erik. 2003. Management and public organization: The principal-agent framework. University of Geneva and National University of Singapore. Working paper.

Lee, Robert D. Jr. & Ronald W. Johnson. 1998. Public Budgeting Systems. Sixth edition. Gaithersburg, Maryland: Aspen Publishers, Inc.

Lupia, Arthur & Mathew McCubbins. 2000. Representation or abdication? How citizens use institutions to help delegation succeed. European Journal of Political Research 37: 291-307.

Magner, Nace & Gary G. Johnson. 1995. Municipal officials’ reactions to justice in budgetary resource allocation. Public Administration Quarterly (Winter): 439-456. Padang, 23-26 Agustus 2006

Mardiasmo. 2002. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Martinez-Vazquez, Jorge, F. Javier Arze, & Jameson Boex. 2004. Corruption, Fiscal Policy, and Fiscal Management. Working Paper, Georgia State University. http://www.fiscalreform.net

Mauro, Paolo. 1998a. Corruption and the composition of government expenditure. Journal of Public Economics 69: 263-279.

_________. 1998b. Corruption: Causes, consequences, and agenda for further research. Finance & Development (March): 11-14.

Mitchell, Paul. 2000. Voters and their representatives: Electoral institutions and delegation in parliamentary democracies. European Journal of Political Research 37: 335-351.

Moe, T. M. 1984. The new economics of organization. American Journal of Political Science 28(5): 739-777.

Moisio, Antti. 2002. Essays on Finish Municipal Finance and Intergovernmental Grants. Helsinki: Government Institute for Economic Research. http://vatt.fi.

Mueller, Bernardo & Carlos Pereira. 2003. Democratic governance and budget allocation in Latin America: Electoral rules and legislative organization – Two complementary dimensions of the cost of governing. Universidade de Brasilia & University of Oxford, working paper.

Petrie, Murray. 2002. A framework for public sector performance contracting. OECD Journal on Budgeting: 117-153.

Republik Indonesia. 1999. Undang-Undang Republik Indonesia No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah.

_________. 2000. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 110/2000 tentang Kedudukan keuangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

_________. 2002. Keputusan Menteri Dalam Negeri No.29/2002 tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tata Cara Penyusunan APBD, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan APBD.

_________. 2004a. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 24/2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

_________. 2004b. Undang-Undang Republik Indonesia No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Ross, Stephen A. 1973. The economic theory of agency: The principal’s problem. AmericanEconomic Review 63(2): 134-139.

Rubin, Irene S. 1993. The Politics of Public Budgeting: Getting and Spending, Borrowing and Balancing. Second edition. Chatam, NJ: Chatham House Publishers, Inc.

Samuels, David. 2000. Fiscal horizontal accountability? Toward theory of budgetary “checks and balances” in presidential systems. University of Minnesota, working paper presented at the Conference on Horizontal Accountability in New Democracies, University of Notre Dame, May.

Schiavo-Campo, Salvatore (Editor). 1999. Governance, Corruption, and Public Management. Manila: Asian Development Bank.

Schick, Allen. 2001. Can national legislatures regain an effective voice in budgetary policy? OECD Journal on Budgeting 1(3): 15-42.

Seabright, Paul. 1996. Accountability and decentralisation in government: An incomplete contracts models. European Economic Review 40: 61-89.

Shleifer, A. & R. Vishny. 1993. Corruption. Quarterly Journal of Economics 108: 599-617.

Smith, Robert W. & Mark Bertozzi. 1998. Principals and agents: An explanatory model of public budgeting. Journal of Public Budgeting, Accounting and Financial Management (Fall): 325-353.

Stiglitz, Joseph E. 1999. Economics of the Public Sector. Third edition. New York: W.W. Norton & Company.

Strom, K. 2000. Delegation and accountability in parliamentary democracies. European Journal of Political Research 37: 261-289.

Tanzi, Vito & Hamid Davoodi. 2002. Corruption, public investment, and growth, dalam Abed, George T. & Sanjeev Gupta (eds.). 2002. Governance, Corruption, &  Economic Performance. Washington, D.C.: International Monetary Fund.

Von Hagen, Jurgen. 2002. Fiscal rules, fiscal institutions, and fiscal performance. The Economic and Social review 33(3): 263-284.

Yudoyono, Bambang. 2003. Otonomi Daerah – Desentralisasi dan Pengembangan SDM Aparatur Pemda dan Anggota DPRD. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Yuhertiana, I. 2003. Principal-agent theory dalam proses perencanaan anggaran sektor publik. Kompak – Jurnal Akuntansi, Manajemen dan Sistem Informasi (September- Desember): 403-422

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 39 other followers

%d bloggers like this: