Kelembagaan DAS

Yohanes G. Bulu, dkk.

MODEL KELEMBAGAAN PENGEMBANGAN TERNAK KAMBING PADA LAHAN KERING DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR

Yohanes G. Bulu, Sasongko WR dan Ketut Puspadi
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Nusa Tenggara Barat

ABSTRAK

Nusa Tenggara Barat memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan ternak kambing pada pertanian lahan kering, serta mempunyai peluang yang besar terhadap tumbuh kembangnya kegiatan usaha agribisnis di pedesaan. Lahan kering menyimpan berbagai potensi yang cukup besar apabila dikelola dengan baik. Populasi kambing di NTB pada tahun 2003 mencapai 282.500 ekor, sedangkan di Kabupaten Lombok Timur tercatat 48.168 ekor. Namun demikian selama tujuh tahun terakhir ini (1997 – 2003) populasi kambing di NTB mengalami penurunan sebesar 21,4%, sedangkan di Kabupaten Lombok Timur mengalami penurunan cukup tinggi yaitu sebesar 87,5%. Sebagian besar petani pada wilayah pertanian lahan kering adalah berpenghasilan rendah dan berpendidikan rendah, sehingga banyak permasalahan-permasalahan yang tidak dapat dipecahkan secara individu; yang hanya dapat dipecahkan melalui lembaga. Pengkajian ini bertujuan menganalisis model kelembagaan pengembangan ternak kambing melalui inovasi teknologi pada pertanian lahan kering, yang sesuai dengan kondisi lingkungan alam, ekonomi, kelembagaan dan sosial budaya masyarakat setempat. Pengkajian ini dilakukan tahun 2004 pada 7 (tujuh) kelompok tani pembibitan kambing di Desa Sambelia Kabupaten Lombok Timur. Pendekatan dalam pengkajian adalah pemberdayaan kelembagaan pengembangan ternak kambing dilakukan secara menyeluruh, partisipatif dan integratif (holistic-participative-integrative approach, HPIA) dengan menganalisis rumah tangga tani dan hubungan sinergis antara kelembagaan pengembangan ternak kambing dan sumber teknologi, kelembagaan perantara dan pasar sebagai suatu sistem. Teknik pengumpulan data adalah melalui diskusi, wawancara dan observasi partisipatif. Data yang dikumpulkan dianalisis secara diskriptif. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa model kelembagaan pengembangan ternak kambing di lahan kering adalah kelembagaan produksi ternak kambing yang meliputi kelembagaan pembibitan dan penggemukan yang disesuaikan dengan kondisi sumberdaya lokal (sosial ekonomi, sosial kelembagaan dan budaya), agroekosistem dan ketersediaan bahan lokal. Antara pembibitan dan penggemukan Kegiatan penggemukan kambing tidak dapat dipisahkan dengan kelembagaan pembibitan sehingga merupakan satu kesatuan dalam kegiatan produksi ternak kambing. Kelembagaan produksi ternak kambing harus didukung oleh ketersediaan teknologi dari sumber teknologi, dukungan pemberdayaan kelembagaan dari Dinas dan PPL setempat.

Kata Kunci: kelembagaan, ternak kambing, teknologi dan lahan kering.

PENDAHULUAN

Kambing merupakan komoditas yang cukup populer di kalangan masyarakat petani yang sebagian merupakan salah satu komponen sistem usahatani di lahan kering. Dipelihara dengan pola semi intensif atau ekstensif yang merupakan usaha sampingan atau bahkan sebagai tabungan hidup. Kambing merupakan ternak yang efisien dalam memanfaatkan lahan marginal (Sharma et al., 1992). Di samping itu kambing cepat berkembangbiak dengan kemampuan beranak (litter size) 2-3 ekor dengan frekuensi melahirkan dua kali setahun (PAAT et al., 1993). Jenis kambing yang dipelihara sebagian besar kambing lokal (kacang) dengan rata-rata pemilikan ternak kambing di Pulau Lombok rata-rata 4,4 ekor per peternak (Dahlanuddin, 2001). Kambing lokal (kacang) memiliki kemampuan beradaptasi lebih baik terhadap kondisi lingkungan dengan ketersediaan pakan relatif terbatas dibandingkan dengan kambing Peranakan Etawah, tetapi performans produksinya relatif lebih rendah. Industri ruminansia kecil di Indonesia bahwa didominasi oleh usaha sambilan skala kecil yang bertumpu pada tenaga kerja keluarga dan input modal yang kecil. Sebagai jalan keluarnya untuk meningkatkan industri ini sangat kompleks dan banyaknya faktor yang menyelimuti pola usaha yang dianut (Djajanegara, 1991).

Tingkat produktivitas ternak kambing dan usahatani lahan kering di NTB tergolong rendah yang disebabkan oleh berbagai aspek, baik aspek kondisi fisik lingkungan alam, penggunaan teknologi yang masih rendah, ekonomi, kelembagaan dan sosial budaya. Rendahnya kepemilikan dan produktivitas ternak kambing kemungkinan besar disebabkan oleh keterbatasan modal peternak dan kemampuan untuk menyediakan sarana produksi. Akibatnya investasi dalam bentuk waktu, tenaga kerja dan modal yang dialokasikan untuk pemeliharaan kambing sangat kecil dibandingkan dengan investasi pada usaha lain seperti tanaman pangan (Dahlanuddin, et. al., 2002). Menurut Pasandaran et al (1993), bahwa sumber daya manusia yang berada di wilayah lahan kering berasal dari rumah tangga berpengahasilan rendah dan juga berpendidikan rendah. Hal ini menyebabkan rendahnya tingkat adopsi teknologi pada pertanian lahan kering.

Populasi kambing di NTB cukup tinggi yaitu 282.500 ekor pada tahun 2003 yang menyebar di seluruh wilayah terutama di lahan kering. Populasi kambing di Kabupaten Lombok Timur pada tahun 2003 (48.168 ekor) dan tahun 2004 meningkat menjadi 54,385 ekor (BPS, 2003; BPS, 2004). Populasi ternak kambing di NTB umumnya dipelihara pada wilayah lahan kering (Bappeda, 2002). Oleh karena itu ternak kambing mempunyai peluang yang besar terhadap peningkatan pendapatan petani lahan kering melalui perbaikan atau penerapan teknologi alternatif (hasil rekayasa) sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas kambing.

Masalah-masalah yang dihadapi dalam pengembangan ternak kambing adalah rendahnya produktivitas dan terbatasnya modal bagi para petani. Peningkatan produktivitas dapat dilakukan dengan perbaikan manajemen pemeliharaan seperti pemberian pakan, perkandangan, sistem perkawinan dan kontrol terhadap penyakit, sedangkan upaya pemecahan masalah kelangkaan modal usahatani dapat dilakukan dengan cara pemberdayaan lembaga keuangan yang ditumbuhkan secara partisipatif oleh masyarakat pedesaan.

Pengembangan wilayah pertanian lahan kering di NTB dapat berkelanjutan apabila ada penghargaan terhadap empat jenis sumberdaya utama, yaitu sumberdaya alam/lingkungan, sumberdaya buatan/ekonomi (termasuk didalamnya teknologi dan permodalan), sumberdaya kependudukan, dan sumberdaya sosial kelembagaan. Salah satu masalah utama dalam pengembangan ternak kambing adalah kurang berfungsinya kelembagaan tani maupun lembaga-lembaga pendukung pertanian lainnya dalam program pembangunan pertanian. Pengkajian ini bertujuan menganalisis model kelembagaan pengembangan ternak kambing melalui inovasi teknologi pada pertanian lahan kering, yang sesuai dengan kondisi lingkungan alam, ekonomi, kelembagaan dan sosial budaya masyarakat setempat.

METODOLOGI PENELITIAN

Pengkajian ini dilaksanakan di Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur dari tahun 2003 – 2004. Pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan pengkajian adalah pemberdayaan kelembagaan pengembangan ternak kambing dilakukan secara menyeluruh, partisipatif dan integratif (holistic-participative-integrative approach, HPIA) dengan menganalisis rumah tangga tani dan hubungan sinergis antara kelembagaan pengembangan ternak kambing dan sumber teknologi, kelembagaan perantara dan pasar sebagai suatu sistem (Badan Litbang Pertanian, 2003). Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan, diskusi kelompok secara partisipatif, musyawara dan wawancara secara individu. Untuk mencapai tujuan pengkajian, maka data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif kualitatif meliputi narasi, skala ordinal, katergorisasi, tabel profil atau menggunakan statistik deskriptif sederhana. Data kuantitatif dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Kelembagaan Pertanian

Kelembagaan yang ada dipedesaan memiliki dinamika yang relatif statis terutama pada beberapa lembaga pendudukung pertanian seperti kelembagaan tani (kelompok tani), lembaga perantara inovasi teknologi (PPL, BPP, POSKESWAN), lembaga saprodi, lembaga pemasaran dan lembaga finansial baik formal maupun non formal. Lembaga-lembaga tersebut sebelum dilakukan pengkajian melalui pemberdayaan kelembagaan dalam produksi ternak kambing belum berfungsi secara baik.

Pembentukan kelompok tani yang dilakukan selama ini dominan diwarnai oleh anjuran petugas (72%) dan divasilitasi oleh petugas (PPL) (16%). Pembentukan kelompok tani yang berdasarkan inisiatif masyarakat hanya 12%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kelembagaan tani (kelompok tani) belum dimanfaatkan petani sebagai kebutuhan utama yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam berusahatani/berternak. Lembaga sarana produksi relatif kurang tersedia di desa seperti kios yang menjual obat-obatan ternak. Lembaga pemasaran relatif tersedia di desa seperti pedagang ternak dan pasar umum sebagai tempat menjual ternak yang telah terjadwal tetap.

Model Kelembagaan Pengembangan Ternak Kambing

Secara umum usaha pemeliharaan ternak kambing yang dilakukan oleh petani di Desa Sambelia adalah usaha pembibitan kambing (75%) dan masih bersifat sampingan (62,5%). Pola usaha seperti ini petani tidak lagi memikirkan peningkatan populasi dan peningkatan pendapatan usaha ternak serta keberlanjutan usaha.

Pemberdayaan petani melalui kegiatan sistem usahatani ternak kambing di lahan kering yang meliputi pemberdayaan teknologi, kelembagaan, dukungan permodalan melalui perguliran ternak kambing, pemanfaatan sumberdaya lokal (bahan hijauan pakan, bahan kandang, dan ternak kambing jenis lokal) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan produktivitas (60,87%) dan peningkatan populasi kambing (75,9%). Penerapan teknologi, pemanfaatan sumberdaya lokal dan pemberdayaan kelembagaan serta pemberdayaan permodalan melalui sistem perguliran dalam usaha pemeliharaan kambing mempunyai hubungan dengan peningkatan reproduksi ternak yang berdampak pada peningkatan produksi dan pertambahan populasi.

Model kelembagaan pengembangan ternak kambing di lahan kering yang dibangun dalam pengkajian sistem usahatani adalah membangun kerjasama antara lembaga produksi dengan lembaga-lembaga lain. Pengembangan usaha ternak kambing pada lahan kering tetap mengacu pada pemanfaatan sumberdaya alam atau sumberdaya lokal, sumberdaya sosial (SDM, ekonomi, Sosial budaya) dan sistem permodalan yang relatif bertahan sesuai kondisi masyarakat setempat. Penguatan kelembagaan dan permodalan petani melalui sistem bagi hasil dan pengelolaan permodalan dari usahatani pangan akan meningkatkan sumberdaya ekonomi dan sosial masyarakat petani.

Dinas peternakan atau instansi terkait dalam melakukan program pengembagan peternakan berdasarkan kebijakan pemerintah harus mampu berkoordinasi dan bekerjasama dengan lembaga sumber teknologi. Dinas selaku pelaksana teknis dengan dukungan kebijakan pemerintah belum maksimal melakukan penguatan permodalan kelompok/petani melalui usaha ternak kambing dengan sistem bagi hasil. Hasil penelelitian menunjukkan bahwa pola bagi hasil dan sistem perguliran ternak kambing pembibitan dan penggemukan lebih disukai petani. Keterlibatan instansi terkait dalam penumbuhan permodalan petani perlu mempertimbangkan kondisi sumberdaya sosial dan sumberdaya alam. Pihak terkait yang secara langsung melakukan pemberdayaan kelembagaan tani dan transfer teknologi adalah PPL. PPL yang tinggal di desa menunjukkan interaksi positif dengan petani maupun kelompok tani.

Informasi teknologi dan sosial ekonomi merupakan informasi penting yang sangat dibutuhkan petani dalam pengembangan usaha peternakan. Peranan BPTP sebagai sumber teknologi atau penghasil teknologi dan pemerintah daerah yang dalam hal ini Dinas Peternakan melalui PPL sebagai pengguna teknologi dan sekaligus sebagai perantara penyebaran teknologi ke tingkat petani diharapkan mampu menciptakan kerjasama dan koordinasi dalam meningkatkan daya saing usaha peternakan pada sentra-sentra produksi. Penyebaran informasi teknolog hasil penelitian perlu menjadi prioritas dalam mendukung peningkatan produksi kambing pada sentra-sentra produksi. Alternatif model kelembagaan pengembangan kambing tersebut dapat menjadi informasi dasar bagi pihak terkait dalam merancang program pengembangan peternakan, bisa dilakukan secara integrasi antara ternak kambing dengan tanaman jagung dalam suatu konsep agribisnis. Menurut Makka (2004) bahwa upaya yang ditempuh dapat berupa pengembangan dan aplikasi model-model yang dapat direplikasi diberbagai wilayah sesuai kondisi agroekosistem dan pola usaha petani setempat.

Kelembagaan produksi yang dibentuk dalam pengembangan usaha ternak kambing di lahan kering adalah usaha pembibitan dan penggemukan. Antara kelembagaan produksi ternak kambing telah mempunyai jaringan dengan lembaga pemasaran ternak. Akan tetapi kelembagaan produksi belum mampu menyediakan ternak sesuai jumlah dan kulitas ternak yang diminta pasar. Hal ini disebabkan populasi ternak kambing yang dipelihara masing-masing anggota kelompok relatif sedikit yaitu berkisar 5 – 7 ekor per rumah tangga.

0g1

Gambar 1. Alternatif model pengebangan ternak kambing di lahan kering

Keberlanjutan usaha agribisnis ternak kambing sangat tergantung pada ketahanan dan keberlanjutan sub sistem produksi, sub sistem teknologi dan sub sistem kelembagaan. Akan tetapi juga sangat ditentukan oleh pola usaha (pembibitan/penggemukan) yang dilakukan serta dukungan kelembagaan pemasaran, teknologi dan kebijakan.

Model pengembangan usaha ternak kambing yang berorientasi agribisnis harus mempertimbangkan sistem dan jaringan pemasaran serta kemampuan daya serap pasar per kawasan. Skala usaha pemeliharaan ternak kambing bagi peternak merupakan bagian terpenting yang perlu diperhatikan untuk mendukung keberlanjutan usaha agribisnis ternak kambing di lahan kering.

Masalah kelembagaan merupakan salah satu mata rantai yang terlemah dalam memajukan peternakan di Indonesia (Makka, 2004). Masalah kelembagaan sangat ditentukan oleh budaya, adat – istiadat dan nilai yang ada dalam masyarakat setempat. Oleh karena itu masih sangat perlu dilakukan perubahan sikap dan pola perilaku petani secara terus menrus.

Untuk mendukung keberlanjutan usaha produksi ternak kambing perlu didukung oleh kelembagaan keuangan formal maupun non formal. Pada tahapan ini petani belum mempunyai kekuatan untuk mengakses permodalan dari kelembagaan keuangan formal. Hal ini disebabkan oleh persyaratan dan prosedur peminjaman uang yang diterapkan oleh lembaga keuangan formal seperti Bank dianggap rumit oleh sebagian besar petani kecil (Bulu, 2004).

Pemberdayaan kelembagaan pemasaran di tingkat kelompok tani adalah membuka jaringan pemasaran kambing sehingga membutuhkan dukungan pembinaan. Pemasaran ternak kambing di Desa Sambelia tidak ada masalah karena telah ada jaringan pemasaran dan telah tersedia lembaga pemasaran di desa. Namun yang menjadi kendala bagi peternak bahwa mereka belum mampu memenuhi volume permintaan pasar. Aspek kelembagaan yang perlu diperhatikan dalam pemberdayaan petani adalah menyengkut perilaku, kepercayaan antara pelaku pasar, kejujuran, interaksi dan pengambilan keputusan. Dengan demikian pemberdayaan petani kecil melalui inovasi lebih relevan untuk difokuskan pada pembinaan kelembagaan sehingga dapat membangun hubungan sinergis antara lembaga-lembaga ke dalam satu kesatuan sistem produksi.

Dampak Pemberdayaan Kelembagaan Tani

Besadasarkan hasil kajian menunjukkan bahwa pembedayaan petani kooperator melalui sistem usahatani ternak kambing terjadi perubahan perilaku petani dalam pemeliharaan ternak kambing. Hal ini menunjukkan perubahan pola pemeliharaan kambing dari ekstensif menjadi semi intensif yaitu pola dikandangkan (70,8%), campuran yaitu antara ikat pindah, dikandangkan dan digembalakan (25%) dan digembalakan menurun menjadi (4,2%). Peluang peningkatan produksi ternak kambing dapat dilakukan dengan pemberdayaan kelembagaan tani dan lembaga pendudukung dalam sistem agribisnis ternak kambing di lahan kering sehingga memungkingkan usaha ternak kambing sebagai sumber pendapatan utama rumah tangga petani.

Strategi untuk meningkatkan pendapatan petani kecil adalah dengan memadukan antara kegiatan usahatani tanaman, usaha ternak kambing, kegiatan luar usahatani serta luar pertanian ke dalam suatu sistem sehingga terbemtuk aliran permodalan antara sub sistem guna menjamin produktivitas sistem, ketahanan dan keberlanjutan sistem usahatani ternak kambing di lahan kering.

Reaksi dan motivasi petani untuk menerima teknologi anjuran serta untuk mencoba beberapa komponen teknologi relatif baik. Sebagian besar petani memilih pola usaha pembibitan kambing relatif bervariasi atantara lain karena cepat menghasilkan sehingga dapat meningkat populasi kambing yang dipelihara, mudah dipelihara dan cepat di jual. Orientasi petani pada usaha pembibitan adalah untuk mendapatkan anak kambing yang setiap saat dapat dijual guna memenuhi kebutuhan keluarga maupun untuk modal usaha pangan.

Usaha pembesaran merupakan bagian dari usaha pembibitan. Anak yang dihasilkan tidak langsung dijual akan tetapi dibesarkan dulu hingga mencapai usia sapih. Selanjutnya anak-anak kambing yang lepas sapih atau yang telah dewasa kelamin baru mulai dijual. Pemasaran bagi bakalan juga relatif tidak sulit karena kambing bakalan merupakan spesifikasi yang diminta oleh rumah makan dan restoran. Antara usaha pembibitan dan penggemukan tidak dapat dipisakan dalam membangun kelembangan pengembangan ternak kambing. Kebutuhan ternak bakalan bersifat musiman, karena petani yang memiliki usaha penggemukan telah menetapkan waktu tertentu untuk membeli bakalan. Hal ini tingginya permintaan pasar pada waktu-waktu tertentu seperti Hari Raya Idul Adha, lebaran dan lainnya mencapai 3000 – 5000 ekor.

Tingkat penerapan teknologi pemeliharaan ternak kambing oleh petani kooperator jauh lebih baik dibandingkan dengan petani non kooperator. Hal ini sangat terkait dengan bimbingan dan pengawalan teknologi yang dilakukan. Kemampuan petani untuk menerapkan teknologi secara baik tidak hanya ditentukan oleh faktor internal induvidu melainkan juga sangat ditentukan oleh faktor eksternal seperti penyebaran informasi inovasi melalui program penyuluhan, pemderdayaan kelembagaan, pendampingan petani yang berkelanjutan dan dukungan kebijakan pemerintah.

0t1

Perubahan faktor internal individu petani sangat ditentukan oleh perubahan kondisi faktor eksternal yang berkaitan dengan usaha ternak kambing yang dilakukan. Tingkat kesulitan komponen teknologi anjuran juga berhubungan dengan kemampuan petani untuk menerapkan teknologi. Sebagian besar petani menyatakan bahwa komponen teknologi atau unsur-unsur teknologi yang dianjurkan tidak sulit dan relatif mudah dilakukan namun dalam penerapan teknologi tersebut sangat tergantung pada ketersediaan tenaga kerja dan modal yang dimilki.
Sumber Modal dan Alokasi Penggunaan Pendapatan

Masalah keterbatasan modal merupakan salah satu masalah utama yag dihadapi petani marginal. Kelembagaan keuangan formal yang bersedia memberikan skim kredit kepada petani sebenarnya cukup banyak akan tetapi tidak ada yang dapat dengan mudah diakses oleh petani. Dukungan permodalan petani untuk usaha ternak kambing baik dari usahatani tanaman pangan, tanaman tahunan, luar usahatani dan luar pertanian relatif lemah. Hal ini mereka (petani miskin) masih mengutamakan ketahanan pangan rumah tangga.

0g2

Gambar 2. Aliran permodalan dalam usaha tanaman pangan dan usaha ternak, 2004.

Secara umum permodalan petani lahan kering untuk membiayai usahataninya relatif sangat terbatas. Sebagian besar sumber permodalan petani lahan kering relatif bervariasi. Sumber permodalan untuk usaha ternak kambing sebagian besar berasal dari modal sendiri (45,5%). Sumber pemodalan sendiri untuk usaha ternak kambing dominan berasal dari usahatani pangan, hortikultura dan perkebunan. Petani yang tidak memiliki modal lebih adalah dengan meminjam kepada orang tua, famili, dan tetangga berkisar 36% – 41%. Hasil penjulan kambing yang digunakan untuk usaha pemeliharaa kambing baru mencazpai 5,6%. Sebagian besar (48,4%) hasil penjulan atau pendapatan dari usaha kambing digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga/sehari-hari (kebutuhan pangan keluarga). Pendapatan dari usahatani kambing yang digunakan untuk memnuhi kebutuhan lain seperti biaya pendidikan, pajak, zakat, dan biaya transportasi.

Pendapatan dari usahatani tanaman pangan yang digunakan untuk usaha pangan (10,5%), usaha ternak (5,3%), untuk memnuhi kebutuhan rumah tangga (78,9%) dan untuk pemenuhan kebutuhan lainnya (5,3%) (Gambar 2). Hasil pengkajian ini menunjukkan bahwa pendapatan petani lahan kering baik dari usaha ternak maupun usahatani pangan lebih dominan dimanfaatkan untuk memnuhi kebutuhan pangan keluaga. Petani belum melakukan investasi untuk usaha ternak kambing sebagai sumber pendapatan utama rumah tangga. Sebagian besar petani masih cenderung memilih usahatani tanaman pangan sebagai sumber pendapatan utama rumah tangga. Berdasarkan kondisi ini maka pengembangan peternakan ke depan harus dilakukan secara integarasi dengan usahatani tanaman (tanaman jagung).

Kelayakan Ekonomi Usaha Ternak Kambing Pembibitan

Secara ekonomi usaha kambing pembibitan yang dilakukan petani kooperator relatif lebih untung dibanding dengan usaha pembibitan yang dilakukan petani non kooperator. Perbedaan keuntungan tersebut disebabkan oleh perbedaan tingkat penerapan teknologi dan jumlah kambing induk yang dipelihara.
Jumlah anggota keluarga dengan rata-rata 4 orang per rumah tangga dan dibandingkan dengan jumlah kambing induk yang dipelihara rata-rata 3 – 7 ekor per rumah tangga maka pendapatan dari usaha pembibitan ternak kambing relatif kecil sehingga belum memenuhi skala ekonomi rumah tangga petani. Menurut Djayanegara, A., et al. (2004), untuk mencapai skala ekonomi rumah tangga yang dapat menjamin kontinuetas pendapatan rumah tangga maka setiap rumah tangga minimal memelihara induk 17 – 18 ekor/rumah tangga. Dari jumlah kambing yang dipelihara tersebut membutuhkan penggunaan tenaga kerja keluarga rata-rata 3 – 4 orang. Jika kemampuan induk melahirkan rata-rata 1,5 ekor per induk dengan tingkat kematian anak 30% dan induk mandul 5% maka rata-rata jumlah kambing yang hidup dari dua kali siklus reproduksi berkisar 10 – 49 ekor sehingga dari jumlah tersebut dapat diperkirakan jumlah kambing yang dijual petani berkisar 1 – 2 ekor per bulan.

Keuntungan petani kooperator dari usaha pembibitan kambing dengan rata-rata Rp 1.703.863/tahun (Tabel 2) sehingga apabila dibagi selama 15 bulan (dua kali siklus reproduksi kambing) maka pendapatan rumah tangga per bulan yaitu rata-rata Rp 113.590/bulan. Pendapatan petani dari usaha pembibitan kambing tersebut belum mampu membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga serta belum mampu untuk mendukung keberlanjutan usaha ternak kambing.
Hasil analisis kelayakan ekonomi menunjukkan bahwa usaha pembibitan ternak kambing relatif menguntungkan. Pendapatan petani kooperator pada usaha pembibitan ternak kambing lebih tinggi dibandingkan pendapatan yang diperoleh petani non kooperator. Hal ini sangat terkait dengan penerapan teknologi yang relatif lebih baik serta jumlah populasi kambing yang dipelihara petani kooperator lebih banyak dari petani non kooperator nilai indeks B/C Ratio sebesar 1,10 (Tabel 2).

Tabel 2. Kelayakan ekonomi usaha ternak kambing pembibitan di Desa Sambelia, 2004.
Uraian Kooperator Non Kooperator
Jumlah Nilai Jumlah Nilai
I. Input
a) Calon Induk dan (bakalan) (ekor) 7 1.025.000 4 508.000
b) Anak kambing Pedet (Rp/ekor) 3 150.000 2 100.000
c) Kambing lepas sapih (Rp/ekor) 1 150.000 – –
d) Pejantan nilai awal (Rp/ekor) – – 1 200.000
e) Pakan hijauan (kg/Rp) 1.541,8 80.500 100 –
f) Pakan penguat (dedak) (Rp/kg) – – – –
g) Obat-obatan Rp/(ml) 190 17.727 – –
h) Tenaga kerja 3 – 1 –
i) Biaya pembuatan kandang 1 120.000 1 158.025
Total biaya 1.542.727 966.025
II. Output:
a) Jumlah ternak induk (Rp/ekor) 7 2.450.000 4 807.176
b) Jumlah pejantan (Rp/ekor) – – 1 400.000
c) Juml;ah anak lepas sapih (Rp/ekor) 3 545.454 2 228.035
d) Jumlah bakalan (Rp/ekor) 1 236.818 – –
e) Jumlah pedet (Rp/ekor) – – – –
f) Pupuk kandang (Rp) 286 14.318 – –
III. Total Penerimaan 3.246.590 1.435.211
IV. Keuntungan (Rp) 1.703.863 470.186
B/C Ratio 1,10 0,49
Sumber: Data primer diolah

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

  1. Ternak kambing sangat sesuai dikembangkan pada wilayah lahan kering seperti di Desa Sambelia Kecamatan Sambelia dan wilayah-wilayah lain Kabupaten Lombok Timur yang mempunyai agroekosistem yang sama atau yang hampir sama.
  2. Intervensi teknologi sistem usahatani ternak kambing menunjukkan terjadi perubahan pola pemeliaharaan kambing dari pemeliharaan ekstensif menjadi semi intensif.
  3. Tingkat penerapan teknologi pemeliharaan ternak kambing oleh petani kooperator relatif meningkat dan lebih baik dibandingkan sebelum dilakukan pengkajian.
  4. Model kelembagaan pengembangan ternak kambing adalah kelembagaan produksi ternak kambing dengan dukungan sumberdaya alam (sumberdaya Lokal), sumber teknologi seperti BPTP, pemberdayaan oleh PPL, lembaga keuangan baik formal maupun non formal, pasar serta dukungan kebijakan pemerintah daerah dalam pengembangan ternak kambing.
  5. Penerapan teknologi menunjukkan respon petani/peternak relatif tinggi. Dukungan pemerintah daerah melalui kebiajakan pengembanan ternak kambing relatif baik.
  6. Model pengembangan ternak kambing di lahan kering yang sesuai adalah usaha pembibitan yang sekaligus dilakukan usaha pembesaran dan penggemukan.
  7. Ditinjau dari aspek sosial-ekonomi usaha ternak kambing pembibitan yang dilakukan oleh petani kooperator memberikan tingkat keuntungan rata-rata mencapai Rp 1.703.863/rumah tangga/tahun dengan nilai indeks B/C Ratio 1,01.

Saran-saran

  1. Untuk meningkatkan produksi dan populasi ternak kambing yang dapat menjamin pemasaran ternak kambing secara kontinue maka masih perlu dukungan teknologi.
  2. Pemberdayaan kelembagaan produksi kambing masih perlu ditingkatkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam sistem dan usaha agribisnis ternak kambing.
  3. Koordinasi dan keterlibatan pihak terkait dalam pemberdayaan petani miskin melalui sistem usahatani ternak kambing sangat penting dan segera dilakukan guna mensukseskan program pembangunan pernakan yang sekaligus dapat meningkatkan pendapatan petani marginal.
  4. Untuk mencapai skala ekonomi dan untuk menjamin kontinuetas pendapatan rumah tangga maka dalam usaha ternak kambing dapat jumlah induk yang dipelihara hingga mencapai minimal 10 – 20 ekor per rumah tangga.
  5. Pemeliharaan kambing yang dapat dilakukan secara terpadu dalam sistem usahatani tanaman ternak guna meningkatkan nilai tambah.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Litbang Pertanian. 2003. Panduan Umum Pengkajian dan Diseminasi di BPTP. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian bekerjasama dengan BP2TP, Bogor.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Lombok Timur., 2003. Lombok Timur Dalam Angka Tahun 2003, Selong.

Badan Pusat Statistik Propinsi NTB., 2003. Nusa Tenggara Barat Dalam Angka Tahun 2003, Mataram.

Bambang Setiadi, 2003. Alternatif Konsep Perbibitan dan Pengembangan Usaha Ternak Kambing. Makalah disampaikan pada sarasehan “Potensi Ternak Kambing dan Prospek Agribisnis Peternakan”. Bengkulu.
Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur. 2002. Statistik Pertanian Kabupaten Lombok Timur.

Djajanegara, A., dan Artaria Misniwaty. 2004. Pengembangan Usaha Kambing dalam Konteks Sosial – Budaya Masyarakat. Prosiding Lokakarya Nasional Kambing Potong. ‘ Kebutuhan Inovasi Teknologi Mendukung Agribisnis Kambing yang Berdayasaing”. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor.

Makka Djafar, 2004. Tantangan dan Peluang Pengembangan Agribisnis Kambing Ditinjau dari Aspek Pewilayahan Sentra Produksi Ternak. Prosiding Lokakarya Nasional Kambing Potong. ‘ Kebutuhan Inovasi Teknologi Mendukung Agribisnis Kambing yang Berdayasaing”. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor.

Sharma, K., J.L. Ogra and N.K. Bhattackarya. 1992. Development of Agro. Silvispasture or Goats. In.R.R. Lokeshwer (Ed) Research in Goats Indian Experience. CIGR. Makhdoom, Mathura, India. Pp 66-73.

Bulu, Yohanes G., 2004. Pemberdayaan Petani Melalui Inovasi Sistem Usahatani Ternak Kambing di Lahan Kering Kabupaten Lombok Timur. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional “Komunikasi Hasil-Hasil Penelitian Ternak dan Pengembangan Peternakan Dalam Sistem Usahatani Lahan Kering”. Waingapu, NTT 23 -24 Agudtus 2004. (Prosiding dalam Proses Penerbitan).

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: