Kelembagaan DAS

Sunaryo, dkk.

KONDISI SOSIAL EKONOMI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI: Kasus Sub DAS Temon dan Keduang

Social Economic Conditions of Watersed Management:a Cases study on Temon and Keduang Sub Watershed

Oleh/By : Sunaryo, S. Andy Cahyono, dan Purwanto

Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta, Wonogiri, 1 Oktober 2002

SUMMARY

The success of watershed management was not only determined by physically aspect which fulfill the conservation term, but also by social economic conditions. The social economic conditions will determine the sustainable of watershed management because human being are prominent determine in succes of natural resources management.

The objectives of this research were to find out the social economic conditions at research and its relation to watershed conditions. Temon and Keduang Sub Watershed were chosen as research location because at the location have been conducted the watershed management practice. Besides that, both of those locations had difference in biophysical and sediment erosion level characteristics. Survei method was applied in collecting data and it was analyzed at comparative descriptivally.

The results indicated that based on social economic conditions, Temon Sub Watershed was included in fairly good watershed. On the contrary, Keduang Sub Watershed was included in fairly bad watershed. Because of the shallow solum, the farmer in Temon Sub Watershed had conserved their land better than the farmer in Keduang Sub Watershed. Less in income had made the farmer in Temon Sub Watershed behaved more carefully in using their land. It was reflected on land conservation and plant selection effort. These efforts had an impact on low erosion and sedimentation.

Key words: Social economic condition, Watershed management, Watershed condition.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal dan rasional bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana sesuai dengan kaidah kelestarian tidak saja akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tetapi juga akan mendapatkan manfaat berkesinambungan. Oleh karena itu pemanfaatan sumberdaya alam yang bijaksana merupakan bagian dari upaya pengelolaan daerah aliran sungai (DAS).

Pengelolaan DAS merupakan suatu rangkaian aktivitas manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam DAS untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian manfaat DAS. Dalam memanfaatkan sumberdaya alam berupa tanah, air dan vegetasi serta interaksi antar faktor sangat dipengaruhi oleh kegiatan manusia itu sendiri (Haeruman, 1994). Pemantauan dan evaluasi diperlukan untuk memantau serta mengevaluasi keberhasilan pengelolaan DAS. Pengelolaan DAS secara menyeluruh, terpadu, terintegrasi, dan berkesinambungan akan menghasilkan suatu kondisi DAS yang memenuhi azas kelestarian dan dapat mensejahterakan masyarakat.

Pemantauan dan evaluasi dalam kaitannya dengan pengelolaan DAS sampai saat ini lebih banyak diarahkan pada aspek biofisik, sedangkan dari aspek sosial ekonomi masyarakat masih terbatas pada tahap pemantauan, dan belum sampai pada tahapan evaluasi.

Kondisi sosial ekonomi masyarakat akan mempengaruhi kondisi suatu DAS. Untuk mengeliminir dampak negatif sakitnya suatu DAS tergantung dari kondisi sosial ekonomi masyarakat dalam mengelola suatu DAS. Pemahaman akan kondisi sosial ekonomi pada suatu DAS tidak saja penting bagi pengelolaan DAS tetapi menjadi ukuran bagi kinerja keberhasilan program rehabilitasi lahan dan konservasi sumber daya.

Untuk itulah mengetahui kondisi sosial ekonomi masyarakat sangat penting dalam pengelolaan DAS karena perbedaan kondisi sosial ekonomi akan mempengaruhi kondisi dan pengelolaan DAS.

B. Tujuan

Penelitian Kajian ini bertujuan mengetahui dan membandingkan kondisi sosial ekonomi masyarakat pada DAS yang berbeda dan apakah kondisi sosial ekonomi yang berbeda akan mempengaruhi kondisi atau tingkat kesehatan (catchment’s health) DAS.

II. METODA PENELITIAN

Pengambilan lokasi contoh didasarkan pada lokasi DAS yang telah melakukan kegiatan pengelolaan DAS dengan baik. Untuk upaya penyelamatan Waduk Wonogiri telah dilakukan sejak tahun 1972 dan pengelolaan DAS secara intensif dilakukan sejak tahun 1986 untuk seluruh daerah tangkapan waduk melalui dana bantuan Bank Dunia sekitar tahun 1989 sampai dengan 1992. Lokasi survei terletak pada daerah tangkapan Waduk Wonogiri yaitu sub DAS Temon dan sub DAS Keduang yang memiliki tingkat erosi dan sedimentasi yang berbeda (Temon sebesar 5 ton/ha/th dan Keduang sebesar 97,3 ton/ha/th). Selain itu, Sub DAS Temon lebih sempit dibandingkan dengan Sub DAS Keduang. Pada Sub DAS Temon terpilih 2 desa yaitu Desa Tegiri dan Selopuro. Adapun untuk Sub DAS Keduang terpilih 6 desa yaitu Sanggrong, Duren, Ngadirejo, Sambirejo, Tanjungsari, dan Kebonagung. Kajian dilakukan dengan metoda survei dengan unit analisis rumah tangga dan kelompok tani. Hasil survei kemudian diklarifikasi dengan menggunakan metoda group discussion. Analisis data yang digunakan adalah analisa deskriptif komparatif.

III. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

3.1. Keadaan Fisik Sub DAS Keduang dan Temon

Luas sub DAS Keduang dan sub DAS Temon berturut-turut adalah 42.644 ha dan 6.953 ha. Sub DAS Keduang terletak di Kecamatan Ngadirejo, Sidoharjo, Jatisrono, dan Jatiroto. Sungai utama sungai Keduang dengan pola aliran dendritik di utara dan trails di bagian selatan. Gradien sungai utama sebesar 5.73 % dan kemiringan rata-rata sub DAS-nya sebesar 21,08 %. Bentuk sub DAS-nya membulat. Sebagian besar terdiri dari endapan pleistosen atas dan formasi Lawu tua. Di bagian selatan terdiri dari batuan vulkanik tua yang telah mengalami pengangkatan, patahan dan pelenturan.Sub DAS Temon meliputi sebagian Kecamatan Baturetno dan Batuwarno.Sungai utama sungai Temon mengalir pada formasi batuan alluvial dan formasi andesit tua. Jenis tanah pada umumnya mediteran merah kuning, grumosol dan litosol. Adapun peta lokasi penelitian yang terletak di Daerah Tangkapan Waduk (DTW) Wonogiri disajikan pada Gambar 1.

3.2. Keadaan Iklim

Tipe iklim di Sub DAS Temon dan sub DAS Keduang termasuk tipe D berdasarkan ketentuan Schmitd dan Ferguson. Musim hujan yang terjadi di sub DAS Temon antara bulan Februari– Mei, sedangkan musim kering terjadi pada bulan Juni – Januari. Di sub DAS Keduang musim hujan terjadi antara bulan November – April dan musim kering pada bulan Mei – Oktober. Jumlah bulan basah di sub DAS Keduang adalah 6-7 bulan, sedangkan bulan basah sub DAS Temon adalah 6-5 bulan.

3.3. Keadaan Penduduk

Sub DAS Temon memiliki kepadatan geografis dan agraris lebih besar dibandingkan dengan Sub DAS Keduang. Kepadatan penduduk yang lebih besar berarti tekanan penduduk atas lahan semakin besar dan hal ini akan berdampak pada prilaku masyarakat dalam pengunaan lahan.

0t1

3.4. Penggunaan Lahan

Lahan pada Sub Das Temon dan Keduang didominasi penggunaanya untuk tegal dan pekarangan. Kondisi solum tanah yang lebih tipis di Sub Das Temon membuat penggunaan lahan untuk tegal demikian dominanya dibandingkan dengan sub Das Keduang. Relatif sedikit lahan yang dapat diusahakan untuk dijadikan sawah membuat penggunaan lahan untuk sawah relatif sedikit pula terutama pada Sub Das Temon.

Pada daerah yang terjal dan berbatu yang tidak dimungkinkan untuk diusahakan sebagai sawah atau tanaman pangan lahan kering maka oleh petani dijadikan sebagai hutan. Namun penggunaan lahan untuk dijadikan hutan hanya berkisar 10% pada dua daerah tersebut. Penggunaan lahan pada dua Sub Das yang dikaji disajikan pada Tabel 2.

0t2

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Profil Responden

Penelitian Umur responden petani di sub DAS Keduang rata-rata 50 tahun sedangkan di sub DAS Temon rata-rata 45 tahun. Bila dicermati umur rata-rata per desa maka umur rata-rata memiliki variasi cukup tinggi. Responden di Desa Selopuro rata rata berumur 41 tahun, Tegiri 48 tahun, Sanggrong 54 tahun, Duren 54 tahun, Gemawang 34 tahun, Sambirejo 57 tahun, Tanjungsari, 58 tahun dan Kebonagung 43 tahun. Kondisi umur tersebut akan mempengaruhi pengambilan keputusan dalam pengelolaan usahatani.

Sebagian besar petani berusahatani tetapi untuk mencukupi kebutuhan hidup maka petani tersebut juga bekerja sampingan untuk meningkatkan kesejahteraannya. Pekerjaan sampingan yang dilakukan oleh petani ditunjukkan pada Tabel 3.

0t3

Usaha peternakan kambing dan sapi merupakan jenis usaha yang banyak diusahakan, belum termasuk ternak unggas yang hampir sebagian besar mempunyai. Hal tersebut didukung dengan ketersediaan pakan ternak berupa rumput-rumputan. Berkembangnya usaha peternakan selain berdampak pada meningkatnya pendapatan petani juga berdampak pada konservasi lahan. Selain sebagai peternak, usaha sampingan yang cukup dominan adalah sebagai pedagang dan perajin (seperti emping mlinjo, tempe, tahu, anyam tikar, anyaman bambu, tali tampar/ dadong dll). Hal ini menunjukkan bahwa petani mulai menganekaragamkan sumber pendapatannya. Selain itu hal tersebut mengindikasikan telah berkembangnya usaha perdagangan dan industri kecil.

0t4

Pengelolaan lahan petani sangat dipengaruhi oleh banyak macam faktor, antara lain jarak lahan dengan lokasi tempat tinggal. Selain itu keberadaan kota sangat mempengaruhi kemudahan cara memperoleh sarana produksi pertanian, sehingga jauh dekatnya juga mempengaruhi intensitas penggarapan dalam berusaha tani. Walaupun hal itu tidak mutlak karena masih dipengaruhi faktor yang lain seperti ketersediaan modal, waktu, tenaga dan sebagainya. Kondisi lokasi tempat tinggal dengan keberadaan lahan dan kota terdekat seperti terlihat pada Tabel 4.

B. Pemilikan Lahan

Lahan pertanian merupakan modal dasar dalam mencukupi kebutuhan hidup petani. Kedua daerah Sub DAS memiliki pola penggunaan lahan yang hampir sama. Penggunaan lahan untuk tegalan menempati luasan terbesar diikuti dengan penggunaan untuk pekarangan. Lahan hutan di Temon cukup luas karena banyak tanah-tanah yang kurang baik untuk diusahakan dengan tanaman semusim, sehingga oleh pemiliknya ditanami dengan tanaman keras (hutan rakyat). Tanaman keras membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja dan perhatian sehingga para petani menggunakan waktu dan tenaganya untuk mencari tambahan pendapatan.

0t5

Bila dilihat dari sungai Bengawan Solo maka daerah Temon letak lokasinya lebih ke hulu, sehingga kondisi topografinya lebih bergunung dengan kemiringan yang curam. Hal tersebut menyebabkan luas lahan sawah dan tegal relatif sempit sehingga luas pemilikan rata-rata sawah dan tegal di daerah tersebut relatif rendah..

C. Produktivitas UsahaTani

Penerimaan petani dihitung dari hasil produksi usahataninya dan harga jual komoditas yang berlaku di daerah tersebut.. Produksi per ha merupakan cerminan tingkat produktifitas lahan di suatu daerah. Daerah yang subur tentu mempunyai tingkat produktifitas yang lebih tinggi dari pada yang lain. Tingkat produktifitas tanaman pertanian pada di kedua sub DAS dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 2:. Produktivitas Tanaman Pangan di Sub DAS Temon dan Keduang

0g2

D. Pendapatan Usahatani

Hasil pertanian merupakan sumber pendapatan utama masyarakat pada kedua Sub DAS. Penerimaan usahatani berbasiskan lahan menunjukkan bahwa pendapatan di Keduang lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan di Temon. Hal ini dikarenakan kesuburan lahan di Keduang lebih tinggi dibandingkan di Temon, sehingga mengakibatkan tingkat produktivitas lahannya juga lebih tinggi.

0t6

E. Pendapatan Keluarga Petani

Pada umumnya pendapatan petani yang di luar lahan yang dapat mendukung ekonomi cukup besar adalah dari berternak. Usaha ternak berkontribusi besar terhadap pendapatan keluarga. Apabila memperhatikan grafik di bawah pada setiap desa maka pendapatan beternak di kedua sub DAS Temon dan sub DAS Keduang cukup tinggi. Namun perlu diketahui bahwa dua lokasi sub Das tersebut mempunyai ciri berternak yang berbeda, dimana sub DAS Temon cara beternaknya masih sangat konvensional, sedangkan di sub DAS Keduang sudah ada unsur berdagangnya. Maksudnya bila di sub DAS Temon petani beternak kambing atau sapi mengambil hasilnya dari anaknya sedangkan kalau di Keduang petani beternak sapi mengambil hasilnya dari penggemukan. Petani membeli sapi kurus dengan harga lebih murah setelah dipelihara beberapa bulan dengan pemberian makanan yang umumnya dari membeli sapi menjadi lebih gemuk lalu dijual dengan harga akan lebih mahal. Suatu hal yang mencirikan kedua sub DAS berbeda adalah Sub DAS Temon ketersediaan pakan ternak terutama rumput-rumputan yang melimpah ditanam petani pada bibirbibir teras sedangkan pada daerah Keduang hal demikan jarang dijumpai. Daerah Temon lebih terisolir sedangkan daerah keduang lebih terbuka..

0t7

Pendapatan Keluarga Petani satu tahun di sub DAS Keduang lebih tinggi daripada petani di sub DAS Temon. Dukungan terbesar diperoleh dari usaha tani 93,39% dan di sub DAS Keduang 58,48%. Hal ini merupakan bukti bahwa di Keduang variasi sumber pendapatan mudah didapat dari pada di sub DAS Temon, sebagai akibat dari assesibilitas di sub DAS Keduang yang lebih mudah didapat. Prosiding Ekspose BP2TPDAS-IBB Surakarta Wonogiri, 1 Oktober 2002 10

F. Standar Hidup Layak

Untuk dapat hidup dengan layak yang sesuai dengan harapan pada umumnya petani setempat, menurut hasil wawancara dengan responden maka petani harus memperoleh penghasilan paling sedikit sebesar Rp 473.000,-/bulan (Rp 5.676.000,- /tahun) untuk Temon dan sebesar Rp 417.000,-/bulan (Rp 5.000.000,-/tahun) untuk Keduang. Pendapatan tersebut bila berbasiskan pada lahan, maka petani di kedua daerah tersebut minimal petani harus memiliki lahan seluas 1.5 ha yang sudah meliputi sawah, tegal dan pekarangan. Melihat rata-rata pemilikan lahan yang masih relatif sempit oleh karena itu kehidupan petani di kedua sub DAS tersebut rata-rata masih jauh dari mencukupi untuk dapat hidup dengan maka peranan pendapatan diluar pendapatan yang berbasis lahan akan sangat menetukan. Implikasinya adalah pengembangan usaha yang dapat meningkatkan pendapatan tetapi tidak berbasiskan pada penguasaan lahan menjadi sangat signifikan dalam menentukan kelangsungan hidup petani dan keluarganya.

Bila diperbandingkan dengan standar hidup layak menurut Sayogyo yaitu ekivalen beras 320 kg/kapita per tahun. Dan bila rata-rata jumlah keluarga setiap kepala keluarga petani ada 4 orang, dan harga beras per Kg Rp 2000,- maka petani paling sedikit harus mempunyai pendapatan pertahun rata-rata Rp 2.560.000,- Ternyata harapan hidup layak yang diinginkan oleh masyarakat petani setempat masih terlalu tinggi daripada standart yang digariskan oleh Sayogyo. Hal ini disebabkan karena harapan yang diinginkan masyarakat sudah meliputi semua pengeluaran untuk kebutuhan hidup.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

  1. Kesuburan tanah yang lebih rendah serta solum tanah yang lebih tipis di Sub DAS Temon telah mendorong perilaku petani lebih konservatif terhadap lahannya daripada perilaku petani di sub DAS Keduang yang kondisi tanahnya relatif lebih subur dan solum dalam.
  2. Disamping itu kondisi tanah yang kurang subur serta tipis di Temon telah membuat prilaku masyarakat Temon yang lebih bersifat hati-hati dan konservatif dalam pengelolaan lahannya termasuk dalam pemilihan tanaman  selain yang harus bernilai ekonomi tinggi juga harus bersifat tidak berdampak terhadap erosi dan sedimentasi.
  3. Kegiatan pengelolaan DAS pada dua Sub DAS menunjukkan terjadinya peningkatan pendapatan masyarakat dan peningkatan pemahaman akan penggunaan lahan yang memenuhi kaidah konservasi.
  4. Adanya perbedaan kondisi assesibilitas kedua daerah dapat membuat masyarakat lebih banyak pilihan variasi pekerjaan, maka pendapatannya cenderung lebih meningkat. Perbedaan assesibitas yang lebih mudah dan terbuka ini mampu merubah cara beternak oleh masyarakat yang konvensional menjadi lebih bersifat orientasi bisnis.

B. Saran

  1. Penyelenggaraan pengelolaan DAS hendaknya selalu mengkaitkan dengan kondisi assesibitas yang ada di masyarakatnya. Kondisi yang lebih terbuka akan berbeda dengan masyarakat yang lebih tertutup.
  2. Peningkatan pendapatan dapat dilakukan dengan penciptaan pendapatan di luar pertanian terutama peternakan, perdagangan, agroindustri, dan kegiatan yang berbasiskan sumberdaya yang ada pada lokasi DAS.

DAFTAR PUSTAKA

BTP DAS Surakarta. 2002. Pedoman Pemantauan dan Evaluasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.

Ditjend RLL. 1985. Pedoman Penyusunan Rencana Teknik Lapangan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Daerah Aliran Sungai. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. Departemen Kehutanan.

Haeruman. 1994. Penyusunan Model Lingkungan Sebagai Alat Pengambilan Keputusan Sosial Ekonomi Pertanian. Faperta UGM. Laporan Akhir Pengadaan Software Analisa Sosek DAS. Kerjasama Dengan BTPDAS Surakarta.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: