Kelembagaan DAS

Sylviani dan Elvida Yosefi S

POTENSI DAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA AIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI JENEBERANG DAN KAWASAN HUTAN LINDUNG ((Studi Kasus di Kabupaten Gowa, Propinsi Sulawesi Selatan)

Oleh : Sylviani dan Elvida Yosefi S

Ringkasan

Pembangunan bidang kehutanan Kabupaten Gowa dititikberatkan pada program optimalisasi fungsi hutan melalui kegiatan rehabilitasi hutan baik segi ekonomi ekologi maupun sosial budaya masyarakat.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelembagaan, potensi dan pemanfaatan sumberdaya air. Potensi sumberdaya air di Kab Gowa ada yang dimanfaatkan langsung oleh masyarakat dari sumbermata air di dalam kawasan HL dan dari sungai Jeberang melalui penampungan waduk / Dam Bili-bili yang dimanfaatkan untuk saluran irigasi, industri gula dan rumah tangga dibagian hilir melalui PDAM Pengelolaan sumberdaya air melibatkan beberapa stakeholder antara lain Dinas PU dan Pengairan Kabupaten, BPDAS, UPTD BPSDA dan PDAM dengan tugas dan fungsinya masing-masing.

Terdapat kelembagaan pada masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian hutan sebagai sumber air melalui tata tanam tahunan yang dilakukan oleh kelompok tani sebelum mengajukan permohonan perijinan penggunaan air terutama untuk irigasi Kata kunci : Kelembagaan, Potensi dan Pemanfaatan Sumberdaya Air.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan bidang kehutanan Kabupaten Gowa dititikberatkan pada program optimalisasi fungsi hutan melalui kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan baik segi ekonomi ekologi maupun sosial budaya masyarakat. Dengan visi dan misi terwujudnya kelestarian hutan melalui pengelolaan yang profesional diharapkan pengelolaan hutan berjalan sesuai dengan arah kebijakan pembangunan secara nasional. Luas wilayah Kabupaten Gowa 1.883,33 km 2 dengan jarak sekitar 6 km dari ibukota Makasar atau 3 % dari luas propinsi Sulawesi Selatan. Sebelah utara berbatasan denagan kotamadya Makassar , Kabupaten Maros dan Kabupaten Bone.Sebelah selatan dengan Kabupaten Takalar dan Kabupaten Jeneponto. Sebelah timur dengan Kabupaten Sinjai, Kabupaten Bulukumba,dan Kabupaten Bantaeng. Wilayah Administrastif Kabupaten Gowa terbagi atas sembilan kecamatan, 130 desa/kelurahan, dan dua wilayah pembantu Bupati. Berdasarkan ekologi dan potensi pengembangannya, kabupaten Gowa dibagi kedalam tiga wilayah pembangunan pertama, wilayah utara meliputi kecamatan Somba Opu dan Kecamatan Bontomarannu,. kedua wilayah timur meliputi Kecamatan Parangloe, Kecamatan Tinggimoncong, Kecamatan Tompobulu, dan Kecamatan Bungaya. ketiga wilayah barat meliputi Kecamatan Pallangga. Kecamatan Bajeng, dan Kecamatan Bontonompo.

Luas kawasan hutan Kabupaten Gowa tercatat 63 099 ha atau 2 % dari luas kawasan hutan propinsi Sulawesi Selatan. Sedangkan luas kawasan hutan lindung Kabupaten Gowa 24 226 ha atau 1,2 % dari kawasan hutan lindung propinsi. Sebaran luas hutan lindung di Kabupaten Gowa berdasarkan kecamatan sebagai tercantum dalam tabel 1 Sampai dengan tahun 2004 realisasi luas hutan dan lahan yang direhabilitasi dilingkungan Daerah Aliran Sungai ( DAS ) bagian hulu di sekitar daerah tangkapan air di kawasan Hutan Lindung Kabupaten Gowa seluas 332,5 ha atau 95 % dengan jenis MPTS dan bertujuan untuk pengamanan waduk serta Dam Bili-Bili.

0t1

Dari luas kawasan HL tersebut penutupan vegetasi hutan terdiri dari Hutan lahan kering sekunder 13 011 ha, semak belukar 3 931 ha, Tanah terbuka 651 ha, perluasan lahan kering dan semak 3 056 ha, Pertanian lahan kering 51 ha dan sisanya Awan 3 526 ha.

B. Maksud dan Tujuan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan pemanfaatan sumberdaya air Sungai Jeneberang serta kelembagaan pengelolaan sumberdaya air di kawasan hutan lindung dengan mengidentifikasi pertama pengguna air dan proses perijinan pemanfaatan air permukaan, kedua instansi yang terkait dalam pengelolaan sumberdaya air dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya air serta sumberdaya manusia yang mendukung kegiatan tersebut. .

II. METODE PENELITIAN.

A. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di kawasan hutan lindung di sub DAS Jeneberang. desa Batulapisi, desa Majannang dan desa Bulutanna Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa , dimana masyarakat sekitar memanfaatkan sumber air dari hutan lindung baik untuk konsumsi rumah tangga maupun irigasi secara swadaya atau berkelompok.

B. Pengumpulan Data

Data sekunder dari Dinas Kehutanan antara lain luas kawasan HL peta kawasan HL, kegiatan rehabilitasi dan data lainnya. BPDAS Jeneberang data kegiatan yang dilakukan pada lingkungan daerah DAS hulu. PDAM data tentang pengguna air dan sumber pengambilan air. Dinas PU dan Pengairan data tentang jumlah pemakai air baik industri maupun rumah tangga. UPTD BPSDA Wilayah sungai Jeneberang data tentang proses permohonan pengambilan dan pemanfaatan air serta tugas pokok dan fungsi institusi 2 tersebut dalam pengelolaan HL Sedangkan data primer diperoleh dari masyarakat yang berada disekitar HL pada lokasi sampel..

C. Analisa Data

Pengolahan data dilakukan secara sederhana melalui tabulasi dengan mengidentifikasi semua stakeholder yang terkait dengan pengelolaan HL dan pengelolaan Sumberdaya Air selanjutnya mengklasifikasikan tugas pokok dan fungsinya. Data primer dari beberapa responden diolah untuk mengetahui bagaimana cara memanfaatkan air dari HL. Hasil pengolahan data selanjutnya dibahas dan dianalisa secara kualitatif dan diskriftif.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Potensi Sumberdaya Alam

Sumberdaya alam hutan, tanah dan air merupakan modal dasar pembangunan yang perlu dikelola dan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat tanpa merugikan kelestarian potensi sumberdaya alam tersebut. Salah satu upaya pelestarian potensi sumberdaya alam tersebut adalah pemeliharaan kesuburan dan peningkatan produktivitas lahan sehingga dalam jangka panjang, mampu mendukung segala aktivitas manusia diatasnya. Pelestarian produktivitas tanah ini dapat dilakukan melalui rehabilitasi lahan-lahan kritis dan melaksanakan teknik-teknik konservasi tanah yang benar dalam pemanfaatan dan pengolahan tanah. Potensi SDA yang dapat dimanfaatkan di Kabupaten Gowa antara lain:

    Pertanian

    Potensi pertanian tanaman pangan yang dimiliki Kabupaten Gowa menempatkan daerah ini pada posisi yang sejajar dengan daerah tingkat II lainnya di Sulawesi Selatan. Daerah ini memiliki areal persawahan seluas 28.828 hektare dengan potensi Irigasi seluas 16.773 hektare baku sawah, atau sekitar 56% dari luas persawahan yang ada. Tanaman pangan yang dikembangkan diantaranya padi, jagung, kedelai dan hortikultura yang tersebar pada kawasan potensial.

    Pariwisata

    Dalan rangka mengembangkan dan menggali potensi pariwisata di Kabupaten Gowa, pemerintah daerah telah mengeluarkan kebijakan dengan dibentuknya Dinas Pariwisata dengan maksud disamping untuk menghasilkan PAD melalui dispenda setempat juga untuk memanfaatkan peluang kunjungan bagi turis manca negara. Pemda Gowa telah mengembangkan berbagai obyek wisata antara lain Benteng Somba Opu, pengembangan dan perluasan Balla Lompoa, Makam raja-raja Gowa, Makam pahlawan nasional Syekh Yusuf, Hutan Wisata dan air terjun Malino, Wisata Tirta Bili-bili, Danau Mawang dan sumber air panas di kecamatan Bungaya.

      Kehutanan

      Berdasarkan data dan informasi dari Dinas Kehutanan Kabupaten Gowa bahwa potensi kehutanan yang ada di kawasan Hutan berupa kayu yaitu Kayu Rimba Campuran, meranti, jati dan kayu indah potensi luas 13 500 ha dan potensi produksi 15 000 m3 , Getah Pinus 80 000 ton dan potensi luas 15 126 ha ( 8 377 ha di Kec Tinggimoncong ) dan Rotan potensi produksi 5000 ton ( 267 ha di Kec Tinggimoncong ). Disamping itu terdapat juga hasil non kayu lainnya Getah Damar Mata Kucing, Damar Batu, Damar Kopal, Damar Pilan, Damar Rasak, Damar Daging dan damar Gaharu. Hasil lainnya Madu, Gula aren Ijuk, Kemiri Kenari Asam, sutra dan Kulit kayu manis.

        B. Potensi Sumberdaya Air

        1. Kondisi Sumberdaya air di Kabupaten Gowa

        0t3

        Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang merupakan salah satu DAS Prioritas Nasional sebagaimana tercantum dalam Surat Keputusan bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan dan Menteri Pekerjaan Umum No. 19 tahun 1984, No. 059/Kpts-II/1985 dan No. 124/Kpts/1984 yang dalam pengelolaannya perlu mendapat perhatian khusus. Daerah Aliran Sungai ini merupakan daerah tangkapan air untuk Dam serbaguna Bili-Bili yang dibangun untuk memenuhi kepentingan penyediaan air minum bagi penduduk Kota Makassar, Sungguminasa dan sekitarnya, irigasi sawah di daerah bagian hilir seluas ± 30.000 ha, pembangkit tenaga listrik dan sarana rekreasi. Berdasarkan data tahun 2004 Balai Pengelola DAS Wilayah VII Makasar ada 7 DAS (Daerah Aliran Sungai ) yang melintasi Kabupaten Gowa seperti pada table 3

        Pembangunan PLTA di Kabupaten Gowa bertujuan untuk pengembangan kelistrikan terutama dalam rangka listrik masuk desa untuk 130 desa/kelurahan sedangkan. pembangunan sektor irigasi di Kabupaten Gowa bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan dalam upaya mendukung kebijaksanaan Pemda Tk. I Sulawesi Selatan.

        0g1

        PLTA dan bendungan Bili-Bili

        Pembangunan irigasi dititik beratkan pada operasi dan pemeliharaan irigasi yang sudah ada, peningkatan jaringan irigasi desa dan pembinaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), serta pembangunan irigasi desa yang potensial. Saat ini, batas elevasi air Bendungan Bili-Bili turun sekitar 14 meter dari elevasi normal 99,5 di atas permukaan laut (dpl). Pada musim kemarau, suplai air dari Sungai Jeneberang hanya 1 kubik per detik. Padahal, kebutuhan air baku untuk keperluan air minum, di luar irigasi, minimal 3 (tiga) kubik per detik.

        Suplai air yang sangat kecil dari Sungai Jeneberang, menurut beberapa pakar
        lingkungan, salah satunya disebabkan oleh penggundulan hutan di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang, yang termasuk dalam kawasan hutan lindung. Akibatnya, lahan sekitar DAS tak mampu menyerap air sehingga memasuki kemarau, debit air Sungai Jeneberang sangat minim.

        0t4

        Untuk mengantisipasi kekurangan air, pengelola bendungan berupaya mengatur pengeluaran air sesuai kebutuhan. Yaitu untuk irigasi areal persawahan di Bili- Bili, Kampili, dan Bisua 23.663 hektar (ha) serta untuk kebutuhan air baku seperti air minum yang digunakan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Makassar 1,1 kubik per detik.

        Pemerintah Kabupaten/kota bertanggungjawab mengelola area irigasi di dalam 1 (satu) kabupaten/kota dengan luas kurang dari 1000 ha, pemerintah propinsi bertanggung jawab mengelola area irigasi lintas Kabupaten / Kota dengan luas antara 1000 – 3000 ha sedangkan apabila melintasi lebih dari 1 (satu) propinsi yang bertanggungjawab untuk mengelola area irigasi dengan luas lebih dari 3000 ha adalah pemerintah pusat.

        2. Kelembagaan Sumberdaya Air

        a. Peraturan

        • Berdasarkan Undang-undang No 7 tahun 2004 tentang Sumberdaya Air diseburkan bahwa pengelolaan sumberdaya air hendaknya dilakukan secara koordinasi dengan mengintegrasikan kepentingan berbagai sektor, wilayah, dan para pemilik kepentingan dalam bidang sumber daya air. Koordinasi dibentuk dalam suatu wadah yang beranggotakan unsur pemerintah dan unsur nonpemerintah dan mempunyai tugas pokok menyusun dan merumuskan kebijakan serta strategi pengelolaan sumber daya air. Wadah koordinasi ini bentuknya berjenjang dimana untuk tingkat pusat berupa Dewan Sumberdaya Air Nasinal, tingkat Propinsi Dewan Sumberdaya air propinsi dan tingkat Kabupaten Dewan Sumberdaya Air Kabupaten.
        • Berdasarkan Kepres No 83 tahun 2002 Tim Koordinasi terdiri dari Menko Ekuin, Bapennas, Kimpraswil dan beberapa Departemen antara lain . Dalam Negeri, Pertanian, Kehutanan, Lingkungan Hidup, Kesehatan, Perikanan dan kelautan, Perindag, Perhubungan, Energi dan Mineral. Hingga saat ini, kebijakan konsep pengelolaan air masih belum ada sehingga pada prakteknya pengelolaan sumberdaya air ini dilaksanakan oleh pemerintah propinsi dan pemerintah kabupaten – Berdasarkan Surat Keputusan bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan dan Menteri Pekerjaan Umum No. 19 tahun 1984, No. 059/Kpts-II/1985 dan No. 124/Kpts/1984 bahwa DAS Jeneberang merupakan prioritas nasional dimana pengelolaannya perlu mendapat perhatian khusus

        b. Organisasi

        Pengelola sumberdaya air Kabupaten Gowa mengikutsertakan beberapa instansi baik teknis maupun non teknis dimana masing-masing mempunyai misi dan tugas pokok dan fungsinya .

        0t5

        Di propinsi Sulawesi Selatan umumnya dan kabupaten Gowa khususnya telah dibentuk Forum DAS, yang berperan dalan pengelolaan DAS dan pemanfaatan sumberdaya air. Akan tetapi, forum ini masih belum berjalan dengan efektif karena masih kurangnya koordinansi antara instansi terkait. Salah satu penyebabnya adalah masing-masing instansi masih terkesan ego sektoral dan mementingkan kegiatan instansinya dalam pengelolaan DAS serta sumberdaya air. Kedepan diharapkan, peran forum DAS ini dapat berjalan efektif sehingga pengelolaan DAS secara terpadu dapat diwujudkan.

        c. Sumberdaya Manusia

        Potensi SDM dari masing-masing institusi terkait dalam pengelolaan sumberdaya air yang berkualitas dan profesional dalam menangani SDA belum terkoodinasi mengingat program pengembangan SDM masih perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan dan kualitas sesuai dengan bidangnya. Instansi yang menangani khusus pengelolaan DAS sudah mempunyai SDM yang dapat diandalkan seperti Dinas PSDA ada SDM yang khusus menangani bidang kualitas air, pengaturan air, pemanfaatan air, perijinan dan pengolah data hidrologi. Sementara instansi lain seperti Dinas Kehutanan belum cukup jumlah SDM yang khusus menangani bidang DAS dimana hanya ada 1 orang yang berpendidikan S2 dan 2 orang yang berpendidikan S1. Program pengembangan SDM dibidang SDA telah dilakukan di Sulawesi Selatan diprakarsai oleh Kimpraswil dengan melibatkan instansi terkait. Program yang dilakukan berupa pelatihan dan training tentang pengelolaan SDA yang diikuti tidak kurang dari 25 orang.

        C. Konservasi Di Kawasan HL Wilayah Sungai Jeneberang

        Konversi maupun penggundulan hutan di daerah hulu sungai akan berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas ketersediaan air di hilir sungai. Sehingga kegiatan konvervasi adalah mutlak dilakukan baik oleh pihak pemerintah maupun masyarakat local yang tinggal di sekitar kawasan hutan lindung. Konservasi kawasan hutan lindung telah dilakukan oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Gowa, terkait dengan pemanfaatan sumberdaya air yaitu Program GNRHL (2003 – 2007). Kegiatan konservasi tersebut telah dilakukan pada beberapa lokasi seperti di table berikut :

        0t6

        Kegiatan konservasi di kawasan hutan lindung di sepanjang sungai jenebarang juga dilaksanakan oleh lembaga yang ada dimasyarakat dengan melakukan kegiatan rehabiltasi hutan,

        a. Kelompok Tani Hutan (KTH)

        Yang mendorong pembentukan Kelompok Tani Hutan (KTH) ini adalah Dinas Kehutanan dalam pengembangan kegiatan social forestry. Yang menjadi anggota dari KTH adalah sekelompok masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan hutan lindung dan diijinkan untuk mengelola lahan secara khusus. Jenis tanaman yang ditanam oleh KTH adalah 70% tanaman hutan dan 30% MPTS (Multi Purpose Tree Species) seperti petai, nangka, kopi, sukun dan lain-lain.

        b. Kelompok Tani Penghijauan (KTP)

        Kelompok Tani ini merupakan sekelompok masyarakat yang menaruh perhatian terhadap kegiatan rehabilitasi di luar kawasan hutan. Jenis tanaman yang dikelola adalah jenis tanaman yang mereka butuhkan.

        c. Kelompok Pelestari Sumberdaya Alam (KPSA)

        Secara organisasi, kelompok ini memiliki jaringan yang lebih luas yaitu secara nasional dan meliputi beberapa aspek seperti pertanian, kehutanan, perkebunan dan perikanan. Untuk wilayah sungai Jeneberang, KPSA berlokasi di Malino Kabupaten Gowa.

        D. Pemanfaatan Sumberdaya Air di DAS Jeneberang.

        Berdasarkan laporan dari Dinas PU dan Pengairan Kabupaten Gowa pemanfaatan air dari sungai Jeneberang disamping untuk konsumsi rumah tangga dan irigasi juga untuk konsumsi industri. Tercatat pengguna air terbesar dari sungai Jeneberang yang ditampung oleh Waduk / Dam Bili-Bili diKabupaten Gowa antara lain :

        a. PDAM Makassar
        b. PDAM Gowa
        c. Pabrik Gula di Kabupaten Takalar (PT. Perkebunan Musantara IV).
        d. Pabrik kertas di kabupaten Gowa.

        Diantara para pengguna tersebut diatas, yang paling banyak memanfatkan air adalah PDAM Makassar terutama untuk konsumsi rumah tangga. Dari total produksi air bersih yang dihasilkan, sebanyak 2.340 liter/detik dimanfaatkan oleh PDAM

        Makassar sebesar ± 53% per tahun Kebutuhan air bersih untuk masyarakat kota Makassar disupply dari sungai Jeneberang dan sungai Maros. PDAM Makassar memeiliki 5 Instalasi Pengelolaan Air (IPA) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Makassar.

        0t7

        Sedangkan kebutuhan air masyarakat Kabupaten Gowa, disupply dari PDAM Gowa dengan sumber air yang berasal dari sungai Jeneberang. Sedangkan 5 unit IPA milik PDAM Gowa seperti tersebut pada Tabel 8 dibawah ini :

        0t8

        Pemanfaatan dari sungai Jeneberang ditampung dalam waduk Dam Bili-bili, yang selanjutnya dialirkan pada 3 (tiga) cabang saluran irigasi yaitu :

        1. Saluran irigasi Bili-bili
        2. Saluran irigasi Bissua
        3. Saluran Irigasi Kampili.

        Pemanfaatan air sungai Jeneberang dari saluran irigasi Bissua oleh sebagian para petani untuk irigasi dan untuk pabrik kertas di Kabupaten Gowa dan pabrik gula di Kabupaten Takalar.

        Para petani yang memanfaatkan sumber air dari sungai Jeneberang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) yang berada di bawah pembinaan Dinas PSDA Propinsi Sulawesi Selatan. Hingga saat ini jumlah Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) mencapai 307 yang tergabung dalam Gabungan Perkumpulan Pemakai Air (GP3A) yang berjumlah 28 meliputi 426 blok irigasi.

        0t9

        E. Proses Pemanfaatan Sumberdaya Air

        1. Prosedur Pemanfaatan Air Dari Sungai Jeneberang

        Prosedur permintaan kebutuhan air untuk tujuan irigasi pertanian, dimulai dari permohonan pengajuan permintaan masing-masing petani yang tergabung dalam Kelompok Petani Pemakai Air (P3A ) yang diawali dengan membuat kesepakatankesepakatan rencana tata tanam tahunan. Prosedur penyusunan rencana tata tanam tahunan terdiri dari :

        a Para petani yang tergabung dalam Kelompok P3A mengadakan pertemuan untuk menentukan rencana tata tanam.
        b Selanjutnya hasil pertemuan akan dibawa ke Gabungan P3A, yang akan dibahas dan disepakati masing-masing P3A.
        c Hasil kesepakatan tersebut akan dibawa ke tingkat kabupaten, untuk menentukan rencana tanam global.
        d Selanjutnya diadakan pertemuan seluruh Gabungan P3A yang difasilitasi oleh PU Pengairan. Pertemuan Gabungan P3A akan memberikan informasi kepada instansi terkait seperti : (1) Ketersediaan air, (2) Rencana pemeliharaan jaringan irigasi oleh PU Pengairan, (3) bibit unggul yang akan ditanam, (4) Hama penyakit tanaman dan lain-lain.
        e Hasil kesepakatan tersebut akan disosialisasikan ke masing-masing P3A dan masing-masing petani.

        Setelah rencana tata tanam tahunan disepakati, petani akan mengajukan keperluan air untuk keperluan irigasi sawahnya. Prosedur permohonan pemanfaatan dan permintaan air berbeda antara Kabupaten Gowa dan Kabupaten Takalar.seperti diuraikan sebagai berikut:

        Kabupaten Gowa

        a. Masing-masing petani dalam P3A mengajukan permintaan air untuk keperluan irigasi sawah. Selanjutnya digabungkan dengan jumlah seluruh permintaan petani akan air dalam satu kelompok P3A.
        b. Masing-masing kelompok P3A mengajukan permintaan air untuk selanjutnya digabung dalam Gabungan P3A. selanjutnya memberikan konfirmasi kepada juru pengairan wilayah setempat. ( UPT Dinas PU Wilayah )
        c. Permohonan permintaan air masing-masing Gabungan P3A, dari setiap Kecamatan diajukan kepada PSDA Kabupaten Gowa. Selanjutnya bekerjasama dengan konsultan untuk membuat pertimbangan akan permohonan permintaan air untuk irigasi.
        d. Kemudian hasil kesepakatan yang ada diajukan kepada UPTD Balai PSDA Wilayah Sungai Jeneberang. Instansi ini akan memberikan rekomendasi teknis kepada Pengelola Waduk Bili-Bili.
        e. Pengelola Waduk Bili-bili akan mempertimbangkan keperluan irigasi dengan supply yang tersedia di waduk Bili-bili. Apabila Pengelola waduk Bili-bili sudah menyetujui permintaan air, segera permintaan air akan irigasi dapat dialirkan (Gambar 1).

        Kabupaten Takalar

        a Masing-masing petani dalam P3A mengajukan permintaan air untuk keperluan irigasi sawah. Selanjutnya digabungkan dengan jumlah seluruh permintaan petani akan air dalam satu kelompok P3A.
        b Masing-masing kelompok P3A mengajukan permintaan air untuk selanjutnya digabung dalam Gabungan P3A.
        c Gabungan P3A memberikan konfirmasi kepada juru pengairan wilayah setempat yaitu Juru Pengairan (Palleko)
        d Kemudian hasil kesepakatan yang ada diajukan kepada Sub Dinas Pengairan Kabupaten Takalar.
        e Selanjutnya Sub Dinas Pengairan akan mengajukan permintaan air kepada UPTD Balai PSDA Wilayah Sungai Jeneberang. Instansi ini selanjutnya akan memberikan rekomendasi teknis kepada Pengelola Waduk Bili-Bili, f Pengelola Waduk Bili-bili akan mempertimbangkan keperluan irigasi dengan supply yang tersedia di waduk Bili-bili. Apabila Pengelola waduk Bili-bili sudah menyetujui permintaan air, segera permintaan air akan irigasi dapat dialirkan (Gambar 1).

        0g1

        2. Prosedur Pemanfaatan Air oleh Masyarakat dari HL

        Pemanfaatan air oleh masyarakat sekitar HL dapat dilakukan langsung dengan melalui proses pencarian sumber mata air baik secara berkelompok maupun per orangan. Dari hasil wawancara dengan beberapa responden dilokasi penelitian menunjukkan bahwa penyaluran air dari bak-bak penampungan di HL yang dibuat secara berkelompok dilakukan dengan menggunakan pipa2 air langsung kerumahrumah. Di desa Batulapisi Kecamatan Tinggimoncong tidak terdapat kelompok tani, akan tetapi mereka memanfaatkan air dari hutan lindung secara swadaya dalam kelompok-kelompok yang berjumlah 4 hingga 6 KK. Sedangkan di desa Majannang dan desa Bulutanna, kecamatan Tinggimoncong terdapat kelembagaan berupa Kelompok Tani Hutan (KTH) yang berjumlah 15 hingga 20 orang. Pada umumnya kepemilihan lahan, berkisar antara 0,5 hingga 3 ha/KK. Di desa Majannang, pemanfaatan air dari hutan lindung dibantu oleh pemda Propinsi Sulsel berupa pipapipa besi yang mengalirkan air dari hutan lindung ke desa tersebut.

        Kesimpulan

        1. Pembangunan bidang kehutanan Kabupaten Gowa dititikberatkan pada program optimalisasi fungsi hutan melalui kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan baik segi ekonomi ekologi maupun sosial budaya masyarakat.
        2. Potensi sumberdaya alam di Kabupaten Gowa dimanfaatkan untuk pertaniantanaman pangan seperti persawahan seluas 28.828 hektare dengan jenis tanaman berupa padi, jagung, kedelai dan hortikultura. Pariwisata antara lain Benteng Somba Opu, Makam raja-raja Gowa, Hutan Wisata dan air terjun Malino, Wisata Tirta Bilibili, Danau Mawang dan sumber air panas di kecamatan Bungaya. Kehutanan berupa kayu Rimba Campuran, meranti, jati dan kayu indah , getah pinus dan damar, rotan,  Madu, Gula aren Ijuk, Kemiri Kenari Asam, sutra dan Kulit kayu manis.
        3. Potensi sumberdaya air yang ada di Kab Gowa ada yang dimanfaatkan langsung oleh masyarakat dari sumbermata air di HL, dari sungai jeberang dimanfaatkan dibagian hilir untuk irigasi, industri gula dan rumah tangga melalui PDAM yang bersumber dari penampungan waduk / Dan Bili-bili.
        4. Pengelola sumberdaya air melibatkan beberapa stakeholder antara lain Dinas PU dan Pengairan Kabupaten, BPDAS, UPTD BPSDA dan PDAM dengan tugas dan fungsinya masing-masing.
        5. Ada kelembagaan dimasyarakat maupun stakeholder dalam menjaga kelestarian hutan sebagai sumber air melalui tata tanam tahunan yang dilakukan oleh kelompok tani sebelum mengajukan permohonan perijinan penggunaan air terutama untuk irigasi.

        Daftar Pustaka.

        Anonim. 2004, Laporan Tahunan Dinas Kehutanan Kabupaten Gowa

        2004, Data dan Informasi Kehutanan, Dinas Kehutanan Kabupaten Gowa 2004, Pelaksanaan GNRHL di Sulawesi selatan Dan Sulawesi Barat

        2002, Struktur Organisasi dan Uraian Tugas UPTD BPSDA Wilayah Sungai Jeneberang Sulawesi Selatan.

        2004, The Study On Capasity Development For Jeneberang River Basin Management In The Republic of Indonesia. JICA and Dirjen of Water Resources

        Advertisements

        2 Comments »

        1. THANKS, ATAS INFONYA

          Comment by saka — April 29, 2010 @ 9:35 am

        2. thanks datanya …..

          Comment by anggia Karina — February 24, 2013 @ 11:56 am


        RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

        Leave a Reply

        Fill in your details below or click an icon to log in:

        WordPress.com Logo

        You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

        Twitter picture

        You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

        Facebook photo

        You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

        Google+ photo

        You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

        Connecting to %s

        Blog at WordPress.com.

        %d bloggers like this: