Kelembagaan DAS

Nana Haryanti, dkk.

KONDISI SOSIAL MASYARAKAT SUB DAS MERAWU DAN SUB DAS BATANG BUNGO

(Social Condition of Community at Merawu and Batang Bungo Sub Watersheds)

Oleh/by: Nana Haryanti, Paimin, dan Sukresno

Abstract

Watershed function as an ecosystem is not merely focus on forest area but agriculture and residence areas. Hence, watershed management needs to pay attention on human and their activities as a part of watershed system. The objective of this research is as follows: 1) describing the social condition of Merawu and Bungo sub watershed community and, 2) describing on how to manage their natural resources. This research was undertaken in Merawu and Batang Bungo sub watershed. Observation and interview methods were used for collect in data. The objective of observation and interview was exploring the social condition of farmers and constructing the phenomena, activities, and perception of the research subjects. The data were analyzed descriptively. The results show that there are differences on social condition of Merawu and Batang Bungo sub watershed community, which are influenced by interaction between social condition and natural condition. The upper land of Merawu sub watershed is dry field and it is utilized for crop farming, and the lower of sub watershed is wet rice field. The land of Bungo sub watershed is utilized for rubber estate because of the unable natural condition for crop cultivation intensively. The basic activity of both Merawu and Bungo sub watersheds is farm system. The education level of respondents is low, resulting of the low practice of land conservation because of the low land conservation knowledge and understanding particularly in Bungo sub watershed. While the low conservation practice at Merawu sub watershed is caused by dry land crop farming. The amount contribution of farm sector on family income at Merawu sub watershed is more than 95% comes from dry land, whereas contribution of farm sector to the family income at Bungo sub watershed more than 68% comes from rubber plantation. The number of big farmer with more than 1 Ha land ownership at Merawu sub watershed is 33,3%, and the amount of big farmer with more than 3 Ha land ownership at Bungo sub watershed is 36,2%. The width of land ownership in Java will influence on the community social status, while in Sumatra the social status is influenced by personal skill and ability.

Key word : human activities, land utilization, social and natural condition.

Abstrak

Fungsi daerah aliras sungai (DAS) sebagai suatu ekosistem tidak hanya bertumpu pada kawasan hutan saja, namun juga meliputi kawasan budidaya tanaman dan kawasan pemukiman. Oleh karena itu pengelolaan DAS perlu memberikan perhatian pada manusia dan aktivitasnya sebagai bagian dari sistem DAS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kondisi sosial masyarakat di sub DAS Merawu dan Bungo, dan pola bagaimana mereka mengelola sumber daya alamnya. Penelitian dilakukan di sub DAS Merawu dan Batang Bungo. Metode observasi dan interview digunakan untuk mengumpulkan data. Tujuan dari observasi dan interview adalah untuk mengeksplorasi kondisi sosial dari petani dan mengembangkan kejadian-kejadian, aktivitas, dan persepsi dari subyek penelitian. Data kemudian dianalisa secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kondisi sosial pada masyarakat sub DAS Merawu dan Batang Bungo, yang dipengaruhi oleh interaksi antara kondisi sosial dan  alam. Hulu sub DAS Merawu adalah lahan kering dan dimanfaatkan untuk pertanian tanaman semusim, dan lahan di hilir sub DAS Merawu adalah persawahan. Lahan di sub DAS Bungo dimanfaatkan untuk perkebunan karet, keadaan ini disebabkan lahan tidak memungkinkan dimanfaatkan untuk pertanian tanaman semusim secara intensif. Kegiatan dasar wilayah baik di sub DAS Merawu dan Bungo adalah sektor pertanian. Tingkat pendidikan responden umumnya masih rendah, berakibat pada rendahnya praktek konservasi tanah karena rendahnya pengetahuan dan pemahaman mengenai konservasi terutama di sub DAS Bungo. Sementara itu rendahnya praktek konservasi tanah di sub DAS Merawu lebih disebabkan oleh pertanian lahan kering. Kontribusi pertanian pada pendapatan rumah tangga di sub DAS Merawu adalah 95% berasal dari pertanian lahan kering, sedangkan di sub DAS Bungo kontribusi sektor pertanian mencapai 68% berasal dari perkebunan karet. Jumlah petani besar dengan kepemilikan lahan lebih dari 1 Ha di Sub DAS Merawu sebesar 33,3%, dan jumlah petani besar dengan kepemilikan lahan lebih dari 3 Ha di sub DAS Bungo adalah 36,2%. Luas kepemilikan lahan di Jawa akan berpengaruh pada status sosial dalam masyarakat, sedangkan di Sumatra status sosial dalam masyarakat lebih dipengaruhi oleh kemampuan dan kecakapan.

Kata kunci: aktivitas manusia, pemanfaatan lahan, kondisi sosial dan alam

I. PENDAHULUAN

Daerah Aliran Sungai (DAS) dipahami sebagai suatu wilayah yang merupakan satu kesatuan ekosistem, dengan berbagai komponen di dalamnya yaitu, morfometri, tanah, geologi, vegetasi, tata guna lahan, dan manusia (Seyhan, 1977). Daerah aliran sungai tidak hanya bertumpu pada kawasan hutan, namun juga meliputi seluruh kawasan budidaya tanaman dan kawasan pemukiman (Zaeni, 1987). Karena meliputi kawasan budidaya tanaman dan pemukiman, pengelolaan DAS juga memberikan perhatian kepada manusia dan aktivitasnya sebagai bagian dari sistem DAS.

Sebagai suatu kesatuan ekosistem, komponen-komponen di daerah aliran sungai saling berinteraksi dan saling tergantung satu sama lain (interdependensi). Dinamika atau perubahan yang terjadi pada salah satu komponennya akan berpengaruh pada komponen yang lain. Dinamika yang berkembang mengakibatkan terbentuknya  keragaman kondisi sosial, yang juga disebabkan oleh pengaruh kondisi geografis dan ragam ekosistem yang ada.

Perubahan yang terjadi pada suatu lingkungan DAS akan berpengaruh pada kondisi alam serta lingkungan sosial dan budaya masyarakatnya. Sebagai contoh perkembangan jumlah penduduk, perubahan pola pemanfaatan lahan untuk industri dan perumahan, kegiatan pertanian intensif, pemilihan jenis tanaman yang ditanam, serta berbagai intervensi kegiatan manusia terhadap lahan, mengakibatkan perubahan keadaan ekosistem dan mempengaruhi kondisi sosial masyarakatnya. Perkembangan tuntutan pemenuhan kebutuhan yang berbeda membawa pula perbedaan pola tingkah laku dan etos kerja.

Kajian ini dilakukan pada masyarakat desa di sepanjang Sub DAS Merawu, Kabupaten Banjarnegara, Propinsi Jawa Tengah dan Sub DAS Batang Bungo, Kabupaten Bungo, Propinsi Jambi. Tujuan dari kajian ini adalah memberikan gambaran kondisi sosial budaya masyarakat ke dua Sub DAS, serta bagaimana mereka mengelola lingkungannya.

II. METODE PENELITIAN

A. Pengumpulan Data

Penelitian dilakukan di desa-desa di Sub DAS Merawu, DAS Serayu di Kabupaten Banjarnegara, Propinsi Jawa Tengah dan Sub DAS Batang Bungo, DAS Batanghari di Kabupaten Bungo, Propinsi Jambi. Terdapat 5 desa yang masing-masing mewakili 1 kecamatan sebagai wilayah pengamatan di Sub DAS Merawu yaitu Desa Penusupan, Kayu Ares, Pakelen, Kasimpar dan Paweden, serta 3 desa yang mewakili 1 kecamatan sebagai wilayah pengamatan di Sub DAS Bungo yaitu Desa Sungai Telang, Muara Buat dan Rantaupandan. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada penetapan zona ekologi yang ditetapkan oleh Departemen Kehutanan bersama UNDP dan FAO, dimana Jawa mewakili daerah dengan curah hujan tinggi (>1500 mm) dan penduduk padat (>250 orang per Km2), sedang Sumatera mewakili daerah dengan curah hujan tinggi (>2000 mm) dan penduduk jarang (<250 orang per Km2) (MOF, 1985).

B. Pengumpulan Data

Guna mendapatkan gambaran kondisi sosial masyarakat dikedua daerah penelitian dilakukan metode observasi pada Bulan Oktober dan November 2003. Cara observasi dilakukan melalui serangkaian kunjungan dan pertemuan informal. Guna menjaga reabilitas studi, observasi dilakukan tidak hanya sekali, sehingga pemantapan pemaknaan pada suatu peristiwa dan hubungannya dengan peristiwa yang lain dapat dilakukan. Sedangkan wawancara, dengan responden utama petani dilakukan untuk menggali secara lebih mendalam terhadap aspek-aspek yang kemungkinan tidak muncul selama proses observasi berlangsung. Wawancara dilakukan terhadap kurang lebih 15 (1,1%) responden di masing-masing kecamatan Sub DAS Merawu, dan 15 (2,1%) responden di masingmasing desa Sub DAS Bungo. Tujuan wawancara adalah untuk menyajikan konstruksi saat itu mengenai suatu peristiwa, aktivitas, persepsi, rekonstruksi beberapa hal, dan proyeksi kedepan (Sutopo, 2002). Wawancara juga dilakukan kepada tokoh-tokoh masyarakat, serta dinas dan instansi terkait untuk mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh.

Subyek penelitian adalah petani yang mewakili daerah hulu, tengah maupun hilir DAS. Pemilihan tiga wilayah tersebut didasarkan pada perbedaan kondisi biofisik yang mempengaruhi sistem usaha tani, atau budidaya pertanian yang dikembangkan masyarakat. Parameter sosial utama yang diamati adalah budaya pertanian, potensi sumber daya manusianya, pendapatan petani, pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan, dan stratifikasi sosial, serta hubungan sosial kemasyarakatan secara umum.

C. Analisa Data

Hasil observasi dan interview kemudian ditabulasikan sesuai dengan kategorikategori atau kelompok. Artinya data-data yang mengandung informasi yang sama disatukan ke dalam satu kelompok seperti, data mengenai kepemilikan lahan, pola tanam dan jenis tanamannya, hasil pertanian yng dominan, budaya bercocok tanam, dan sebagainya. Kemudian diuraikan dalam satuan uraian sehingga lebih mudah untuk diiterpretasikan. Hasil interpretasi dari data dianalisa dan disajikan dalam bentuk deskriptif. Yaitu berupa penyajian fakta-fakta yang menggambarkan situasi sebenarnya pada daerah pengamatan.

Untuk mendukung analisa disajikan pula data yang bersifat kuantitatif. Analisa kuantitatif dilakukan untuk menghitung tekanan penduduk (TP), dan kegiatan dasar wilayah yaitu koefisien lokasi/Location Quation (LQ) yang digunakan untuk menentukan sektor ekonomi yang paling berpengaruh terhadap kehidupan penduduk. Nilai koefisien lokasi difokuskan pada bidang pertanian, dan digunakan untuk melihat seberapa besar pengaruh sektor pertanian pada kehidupan penduduk. Jika nilai LQ untuk sektor pertanian pada suatu wilayah pengamatan >1, keadaan ini menunjukkan penduduk tergantung pada sekor pertanian.

Perhitungan nilai LQ sebagai berikut :

LQi : Mi/M
Ri/R

Keterangan:

  • LQ : Koefisien lokasi
  • Mi : Jumlah tenaga kerja yang telibat didalam sektor i pada satu wilayah pengamatan
  • M : Jumlah tenaga kerja yang ada disatu wilayah pengamatan tersebut
  • Ri : Jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam sektor i pada seluruh wilayah pengamatan
  • R : Jumlah tenaga kerja yang ada diseluruh wilayah pengamatan

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Daerah Penelitian

Sub DAS Merawu, DAS Serayu terletak di Kabupaten Banjarnegara, Propinsi Jawa Tengah, dengan luas wilayah dalam satuan pemantauan hidrologis adalah 21.860 Ha (Puslitbang Pengairan, 1998). Sub DAS Merawu dibagi dalam Sub-sub DAS dan administrasi yaitu Sub-sub DAS Merawu hulu dengan luas 15.312,6 Ha yang berada di 4 wilayah kecamatan, Sub-sub DAS Merawu hilir luas 1.470,0 Ha pada 3 kecamatan dan, Sub-sub DAS Urang dengan luas 5.912,6 Ha yang terdiri dari 2 kecamatan. Sedang dalam satuan pengamatan penelitian sosial masing-masing dipilah menjadi wilayah atas dan bawah. Keberadaan wilayah tersebut dalam lingkup kecamatan seperti pada Tabel 1.

0t1

Kondisi geologi Sub DAS Merawu secara umum merupakan zona pegunungan Serayu Utara bagian tengah, yang terdiri dari formasi Merawu, Panjatan, Bodas, Ligung dan Jambangan. Curah hujan rata-rata 2.081-4.462 mm, jumlah hari hujan rata-rata 142 hari/tahun, berdasar klasifikasi Schmidt-Ferguson termasuk pada tipe iklim A. Penggunaan lahan meliputi pekarangan, semak, hutan, kebun teh, rumput, sawah irigasi,  sawah tadah hujan, kebun campuran, sayuran, dan tegalan.

Sedangkan Sub DAS Bungo secara administratif pemerintahan terletak di Kecamatan Rantau Pandan dan hanya sebagian kecil berada di Kecamatan Sarko Kabupaten Bungo Tebo, Propinsi Jambi. Luas Sub DAS Bungo dalam satuan pengamatan hidrologis adalah 41.060 Ha (Puslitbang pengairan, 1998). Secara administratif wilayah Sub DAS Bungo sebagian besar berada di Kecamatan Rantau Pandan, sehingga pengamatan hanya dilakukan pada kecamatan tersebut. Unit pengamatan dilakukan pada desa dibagian hulu, tengah, dan hilir dari wilayah pengamatan.

Keadaan geologi Sub DAS Bungo terdiri dari batuan gunung api dari formasi Pelepat dan batuan sedimen dan malihan dari formasi Rantaukil. Pada beberapa tempat baik disebelah hulu dan tengah Sub DAS Bungo terdapat sesar naik turun. Curah hujan tahunan rata-rata sebesar 2.251 mm, dan terjadi sepanjang tahun dengan curah hujan bulanan rata-rata 100 mm/bulan. Berdasar klasifikasi Schmidt-Ferguson Sub DAS Bungo termasuk tipe iklim A. Penggunaan lahan terluas umumnya berupa lahan hutan dan semak belukar, sedangkan fungsi lahan untuk tujuan budidaya pertanian seperti tegal, sawah dan penggunaan untuk pemukiman tidak terlalu luas yaitu kurang lebih 10 %. Keadaan kedua sub das pada Tabel 2.

0t2

Secara umum kedua sub das memiliki perbedaan dalam penggunaan lahan oleh masyarakat, yang dipengaruhi oleh keadaan jenis tanah. Pada Masyarakat Sub Das Merawu pemanfaatan lahan terutama untuk tegalan lahan kering dan kebun campuran, dan berkembang luas terutama di daerah hulu dengan tanaman sayur sebagai tanaman utama. Sedangkan di Sub DAS Bungo pemanfaatan untuk perkebunan karet dan selebihnya dibiarkan ditumbuhi semak tidak dikelola, yang diusahakan didaerah tengah dan hilir. Daerah hulu dibiarkan sebagai hutan karena secara geografis masih sulit untuk dijangkau dan dikelola.

B. Aspek Sumber Daya Manusia

1. Penduduk

Penduduk merupakan unsur sosial yang penting untuk diperhatikan, terutama karena faktor kependudukan dapat mempengaruhi kondisi suatu DAS. Keadaan penduduk pada wilayah pengamatan pada Tabel 3.

0t3

Laju pertumbuhan penduduk di Sub DAS Merawu adalah 0.01% (Kabupaten dalam angka, 2002). Secara umum tekanan penduduk terhadap lahan (TP) di Sub DAS Merawu <1. Keadaan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap lahan masih dapat dikatakan ringan. Artinya lahan masih memiliki daya dukung terhadap berbagai kegiatan penduduk saat ini.

Keadaan kependudukan di Sub DAS Bungo yang dalam wilayah pengamatan hanya diwakili oleh Kecamatan Rantau Pandan pada Tabel 4. Keadaan ini karena sebagian besar wilayah DAS secara administratif berada pada kecamatan tersebut.

0t4

Laju pertumbuhan penduduk di Sub DAS Bungo 0.029% (Kabupaten dalam angka, 2002). Berdasarkan indikator tekanan penduduk (TP) Sub DAS Bungo dikategorikan ringan (<1). Hal ini karena aktivitas penduduk terhadap lahan belum mempengaruhi keadaan lingkungan. Lahan masih dapat menampung lebih banyak penduduk, meskipun perlu diwaspadai pada lima tahun mendatang tekanan penduduk akan bertambah tinggi.

Keadaan rendahnya tekanan penduduk baik di Sub DAS Merawu maupun di Sub Das Bungo disebabkan oleh faktor yang berbeda. Di Sub DAS Merawu keadaan ini terutama disebabkan karena makin banyaknya penduduk yang mulai bekerja diluar bidang pertanian (15,6%), sehingga meskipun proporsi petani cukup dominan dalam populasi (84,4%) secara keseluruhan jumlahnya mulai menurun. Sedangkan rendahnya angka tekanan penduduk di Sub DAS Bungo lebih disebabkan karena luasnya lahan pertanian yang dimiliki, dan rendahnya jumlah penduduk meskipun proporsi jumlah petani dalam populasi cukup banyak.

2. Mata Pencaharian

0g1

Gambar 1. Mata Pencaharian Responden Sub DAS Merawu Figure 1. The Livelihood of Respondents at Merawu Sub Watershed

Mata pencaharian sebagian besar penduduk di Sub DAS Merawu adalah bidang pertanian, maka tidak semua permintaan akan lahan dapat terpenuhi. Penduduk yang tidak memiliki lahan pertanian, kemudian bekerja disektor lain, dan bagi yang tidak memiliki modal dan ketrampilan bekerja sebagai buruh tani.

Hasil survey menunjukkan bahwa responden umumnya memiliki pekerjaan pokok sebagai petani. Pada responden Sub-sub DAS Merawu hulu atas umumnya (83,3%) tidak memiliki pekerjaan sampingan, sehingga mereka hanya mengandalkan penghasilan dari lahan pertanian. Sedang pada responden Sub-sub DAS Merawu hulu bagian bawah dan Sub-sub DAS Merawu hilir, hampir semuanya memiliki pekerjaan sampingan antara lain sebagai pedagang, peternak, tukang batu dan sebagainya.

Responden Sub-sub DAS Urang atas juga melakukan pekerjaan sampingan sebagai pedagang dan peternak untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Demikian juga pada responden Sub-sub DAS Urang bawah, sebanyak 33,3% responden bekerja sebagai petani dan buruh tani. Pekerjaan sampingan dilakukan untuk mengisi waktu luang diselasela menunggu panen, atau pada saat musim kemarau karena lahan tidak diusahakan secara maksimal.

Nilai LQ yang digunakan untuk menentukan sektor ekonomi yang berpengaruh terhadap kegiatan penduduk menunjukkan bahwa di Kecamatan Wanayasa, Pejawaran, Karangkobar, dan Madukara LQ sektor pertanian 1<. Sedangkan nilai LQ sektor pertanian di Kecamatan Pagentan <1. Berdasar data tersebut menunjukkan bahwa kegiatan dasar masyarakat Sub DAS Merawu masih dipengaruhi sektor pertanian, sehingga kebutuhan lahan pertanian cukup tinggi.

0g2

Gambar 2. Mata Pencaharian Responden Sub DAS Bungo Figure 2. The Livelihood of Respondents at Bungo Sub Watershed

Komposisi mata pencaharian terbesar penduduk Sub DAS Bungo adalah di sektor pertanian baik sebagai petani pemilik maupun sebagai buruh tani. Berbeda dengan petani di Sub DAS Merawu yang lebih dominan mengembangkan tanaman semusim, petani di Sub DAS Bungo, umumnya mengembangkan perkebunan.

Pada daerah hulu Sub DAS Bungo, responden yang memiliki mata pencaharian utama sebagai petani sebanyak 88,8%. Dari responden yang bekerja sebagai petani, sebanyak 38,9% tidak memiliki lahan yang dapat ditanami dengan tanaman karet oleh karenanya mereka bekerja sebagai buruh sadap karet. Beberapa petani pemilik kebun karet masih melakukan pekerjaan sampingan sebagai buruh sadap karet pada lahan milik orang lain untuk menambah pendapatan keluarga. Sedangkan umumnya bekerja diluar bidang pertanian seperti pertukangan untuk menambah penghasilan keluarga. Pekerjaan sampingan diluar sektor pertanian umumnya dilakukan pada saat musim penghujan, dimana pekerjaan menyadap karet tidak mungkin dilakukan.

Sedang responden bagian tengah Sub DAS Bungo yang memiliki pekerjaan utama sebagai petani sebanyak 93,3%, selebihnya pada sektor lain seperti perdagangan. Semua responden memiliki kebun yang ditanami karet, sehingga penghasilan utama berasal dari hasil tanaman karet.

Sebagian responden daerah hilir mengembangkan pertanian tanaman semusim dan kurang mengembangkan tanaman karet. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka bekerja sebagai pedagang, tukang kayu, tukang batu, dan buruh sadap karet. Umumnya petani pemilik kebun karet tetap bekerja sebagai buruh sadap karet untuk menambah penghasilan keluarga, karena sempitnya luas kebun karet yang dimiliki. Kegiatan dasar yang paling dominan pada masyarakat Sub DAS Bungo adalah sektor pertanian seperti ditunjukkan oleh nilai LQ sektor pertanian 1<. Besarnya ketergantungan pada sektor pertanian belum banyak berpengaruh pada kondisi lingkungan karena masih dapat diimbangi oleh ketersediaan lahan.

3. Pendidikan

Sebagian besar responden Sub DAS Merawu hanya memiliki pendidikan setingkat sekolah dasar (86,67 %), terutama pada mereka yang bekerja di sektor pertanian. Akibat rendahnya pendidikan dan pemahaman, praktek usaha tani yang dilakukan petani terkadang belum sesuai dengan kaidah konservasi tanah yang benar. Penterasan yang dilakukan belum sempurna, sehingga masih memungkinkan terjadinya erosi tanah.

Meskipun penduduk yang memiliki pendidikan dasar cukup dominan, tetapi sudah cukup banyak penduduk yang dapat menikmati pendidikan lebih tinggi terutama di Kecamatan Wanayasa sebanyak 1,6% penduduknya telah dapat mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Keadaan ini terutama karena dukungan hasil pertanian yang memililiki nilai ekonomi tinggi seperti kentang, teh, tembakau, dan kopi, dan tanaman untuk bahan dasar industri pasta gigi yaitu tanaman mint.

Sebagian besar (55,3%) penduduk di Sub DAS Batang Bungo memiliki pendidikan setingkat sekolah dasar. Dengan pendidikan yang rendah masyarakat tidak memiliki pilihan lain kecuali menekuni pekerjaan sebagai petani, yang umumnya telah dilakukan secara turun temurun. Dengan semakin bertambahnya penduduk yang memiliki mata pencaharian sebagai petani, maka permintaan akan lahan pertanian juga meningkat. Berdasar survey lapangan jumlah petani Sub DAS Bungo yang memiliki pendidikan SLTP dan SLTA lebih banyak (42,6%) dari responden petani Sub DAS Merawu yang hanya 13,3%.

C. Budaya Pertanian

Pola pemanfaatan lahan di Sub DAS Merawu berbeda untuk bagian atas, bawah, dan hilir. Pada bagian hulu atas umumnya berupa lahan kering yang dimanfaatkan untuk budidaya tanaman sayuran. Padi tidak untuk dikembangkan di wilayah atas, sehingga jagung menjadi makanan pokok masyarakat sehari-hari. Pada bagian bawah Sub-sub DAS Merawu maupun Sub-sub DAS Urang, masyarakat umumnya mengembangkan tegalan, kebun campuran, sawah tadah hujan, dan sayuran. Tanaman kayu banyak ditanam oleh penduduk, selain tanaman buah-buahan. Sedang pada bagian Sub-sub DAS Merawu hilir, kebun campuran dan sawah irigasi lebih dominan dikembangkan penduduk. Luas lahan yang dimiliki responden pada Gambar 3.

0g3

Gambar 3. Luas Rata-rata Kepemilikan Lahan Responden Sub DAS Merawu Figure 3. The Everage Area of Land Ownership at Merawu Sub Watershed

Padi masih merupakan tanaman pokok sehingga dari tahun ke tahun diupayakan peningkatan produksinya, terutama untuk memenuhi kebutuhan setempat. Namun demikian pada kenyataannya jumlah total produksi padi, baik padi sawah maupun padi ladang dalam wilayah tersebut terus mengalami penurunan akibat menurunnya luas panen atau berkurangnya lahan sawah. Pada Kecamatan Wanayasa, Pejawaran, Pegentan, maupun Karangkobar tidak terdapat saluran irigasi teknis. Oleh karena itu untuk mengairi sawahnya penduduk membangun saluran irigasi setengah teknis secara swadaya guna mengalirkan air dari sungai ke sawah.

Pada lahan-lahan yang hanya mendapatkan pengairan dari air hujan dikembangkan tanaman palawija dan sayuran. Namun demikian karena permintaan penduduk akan lahan yang semakin meningkat untuk fungsi-fungsi yang lain seperti perumahan, dan industri terdapat kecenderungan luas lahan pertanian mengalami penurunan.

Penyebab menurunnya hasil pertanian selain menurunnya luas panen, juga karena lahan mulai berkurang kesuburannya akibat tingginya intensitas penggunaan lahan. Lahan yang mulai berkurang kesuburannya kemudian ditanami tanaman ketela pohon dan tanaman perkebunan. Masyarakat petani Kecamatan Wanayasa dan Pejawaran tidak memiliki kebiasaan menanam tanaman kayu. Tanaman kayu selain dianggap mengganggu pertumbuhan tanaman semusim dan tanaman sayur, juga dianggap mengurangi bidang olah sehingga dapat mengurangi produktivitas pertanian. Pengetahuan petani mengenai konservasi cukup baik, lahan pertanian telah dibuat teras, meskipun pada beberapa lahan teras yang dibuat belum sempurna. Belum sempurnanya teras terutama pada lahan yang ditanami tanaman sayur, dilakukan dengan sengaja oleh petani untuk memperlancar sistem drainase yang lebih cepat guna menghindari pembusukan tanaman. Petani juga merasa enggan menanam tanaman tampingan teras seperti rumput dan Glyricideae untuk mencegah erosi karena mengganggu pertumbuhan tanaman semusim. Petani pada umumnya kurang memiliki analisis mengenai usaha tani sehingga cenderung menanam satu jenis tanaman secara bersamaan, akibatnya pada saat panen raya tiba harga produksi pertanian menjadi jatuh dan seringkali keuntungan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Masyarakat Sub DAS Bungo sangat mengandalkan usaha taninya pada hasil dari perkebunan karet. Masyarakat juga mengembangkan kegiatan persawahan, namun hanya dilakukan pada lahan di sepanjang tepian sungai. Hal ini karena saluran irigasi belum tersedia, sehingga air untuk sawah diperoleh dari sungai dengan membangun kincirkincir sebagai penyalur air. Pertanian tanaman semusim tidak dikembangkan secara intensif, petani hanya menanam padi satu kali dalam setahun. Bibit padi yang digunakan adalah padi lokal, dengan umur 6 bulan. Petani hampir tidak pernah melakukan pemupukan, selain karena keterbatasan modal juga karena alasan kebiasaan. Luasnya lahan yang dimiliki oleh masing-masing petani dan sedikitnya tenaga kerja yang tersedia untuk menggarap lahan, menyebabkan beberapa lahan persawahan dibiarkan saja sebagai semak belukar dan tidak dikelola. Luas lahan rata-rata yang dimiliki petani seperti pada Gambar 4.

0g4

Gambar 4. Luas Rata-rata Kepemilikan Lahan Responden Sub DAS Bungo (Ha) Figure 4. The Average Area of Land Ownership at Bungo Sub Watershed

Curahan tenaga kerja petani terutama difokuskan untuk mengelola tanaman perkebunan (karet). Pada tanaman perkebunan juga tidak dilakukan pemeliharaan yang berarti. Tanaman yang ditanam dibiarkan tumbuh, dan selama menunggu tanaman dapat dipanen biasanya petani mengerjakan pekerjaan lain seperti buruh, pertukangan, dan sebagainya. Penyadapan dilakukan pada musim kemarau, sedang pada musim penghujan petani tidak melakukan kegiatan penyadapan. Pada umumnya penyadapan dilakukan bersama-sama anggota keluarga karena luasnya lahan kebun. Jika anggota keluarga tidak memungkinkan biasanya mereka dibantu oleh beberapa tenaga kerja lain. Dari hasil penyadapan pemilik kebun mendapatkan hasil sepertiganya, sedangkan selebihnya menjadi hak penyadap.

D. Pendapatan Petani

Pendapatan petani yang sangat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup di Sub DAS Merawu terutama diperoleh dari hasil lahan pertaniannya mencapai lebih dari 95,2% dari total pendapatan keluarga, meskipun kadang tidak mencukupi. Tingkat pendapat responden dari hasil pertanian dan lainnya pada seperti Tabel 5.

0t5

Pendapatan petani yang tinggi terutama diperoleh dari tanaman sayuran, terutama tanaman kentang seperti di Sub-sub DAS Urang. Meskipun masyarakat setempat menyadari bahwa sistem budidaya tanaman kentang yang dipraktekkan mengakibatkan erosi yang tinggi, namun karena nilai ekonominya yang tinggi mereka tetap meneruskan usaha tani tersebut. Sedang pada daerah bawah hasil dari lahan pertanian lebih rendah, terutama karena tanaman yang ditanam berupa kebun campuran yang tidak memiliki nilai ekonomi tinggi.

Sedang pada responden di Sub DAS Bungo sebagian besar pendapatan penduduk diperoleh dari hasil kebun dan sawah tadah hujannya yang mencapai lebih dari 68,3% dari total pendapatan keluarga. Pendapatan responden Sub DAS Bungo ditunjukkan pada Tabel 6.

0t6

Pendapatan terbesar diperoleh dari hasil kebun yang ditanami karet sebagai tanaman utama. Pendapatan lain-lain diperoleh dari bekerja sebagai buruh karet, bertukang, dan usaha lainnya. Pekerjaan ini tidak selalu dilakukan, sehingga hasilnya juga tidak dapat diharapkan secara pasti.

E. Pemanfaatan dan Pengelolaan Lingkungan

Komunitas masyarakat desa telah mengalami berbagai kontak budaya dengan masyarakat luar, sehingga berbagai pengetahuan dan teknologi baru kemudian menjadi bagian dari sistem kehidupan mereka. Namun setiap masyarakat memiliki interpretasi yang beragam mengenai bagaimana mereka memperlakukan pengetahuan pada sistem kehidupan mereka. Secara umum masyarakat desa memiliki ketergantungan yang besar terhadap sumber daya alam, sebab kebutuhan hidup sehari-hari dipenuhi dari memanfaatkan hasil alam secara langsung. Kegiatan pertanian tanaman pangan merupakan kegiatan utama masyarakat desa, meskipun setiap komunitas memiliki polapola yang berbeda dalam mengelola sumber daya alamnya.

Berdasarkan tingkat pengetahuan yang dimiliki, masyarakat desa di Sub DAS Merawu memiliki pengetahuan dan teknologi yang lebih maju daripada masyarakat di Sub DAS Bungo, meskipun beberapa petani Sub DAS Merawu masih mengembangkan teknologi tradisional dalam mengolah lahannya. Secara umum petani di Jawa telah mengembangkan persawahan secara luas dengan cara menetap dan sistem irigasi yang baik. Namun karena perkembangan penduduk yang pesat, luas rata-rata lahan yang dimiliki petani sangat sempit. Karena sempitnya lahan yang dimiliki, sementara ketergantungan terhadap lahan yang sangat tinggi akibat peningkatan akan kebutuhan hidup, maka lahan di Jawa dikelola dengan lebih intensif. Lahan hampir tidak pernah dibiarkan menganggur sepanjang tahun. Untuk tetap menjaga kesuburan tanahnya, petani melakukan pergiliran tanaman dan pemupukan. Walaupun demikian karena intensifnya pemanfaatan lahan, tanah saat ini cenderung mulai berkurang kesuburannya. Indikator menurunnya tingkat kesuburan dapat dilihat dari peningkatan penggunaan pupuk pada tanaman, dan hasil panen yang selalu mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Hasil dari usaha pertanian terutama untuk tujuan komersial (dijual), jika ada kelebihan baru untuk konsumsi sendiri.

Tingginya permintaan akan lahan di Sub DAS Merawu khususnya dan di Jawa pada umumnya, menyebabkan masyarakat mulai melakukan perambahan ke daerahdaerah yang tidak sesuai dengan kemampuan lahannya. Akibat keadaan ini lingkungan mulai mengalami berbagai kerusakan, dan akibat yang dirasakan penduduk terutama di desa adalah kekeringan pada saat musim kemarau. Hampir setiap tahun lahan pertanian mengalami puso dengan luasan yang semakin bertambah, bahkan di beberapa daerah seperti di daerah Sub-sub DAS Urang atas pada musim kemarau lahan sama sekali tidak dapat ditanami.

Sedangkan petani di Sub DAS Bungo masih mengembangkan pola perladangan berpindah. Hal ini dimungkinkan karena lahan yang tersedia masih cukup luas. Saat ini perladangan berpindah dilakukan pada tanah milik, tetapi dimungkinkan dilakukan pada lahan yang dianggap tidak bertuan. Perladangan dengan sistem berpindah ini dilakukan dengan dua cara yaitu, pertama secara tumpang sari dengan tanaman karet sebagai tanaman pokok, ketika tanaman karet sudah mulai tinggi dan menaungi tanaman semusim perladangan dihentikan dan berpindah pada daerah lain. Kedua, membuka lahan dengan cara tebang-bakar-tanam, setelah 2-3 kali panen dan dirasa tanah sudah mulai tidak subur lagi, penanaman tanaman semusim kemudian dilakukan dilokasi lain. Hasil pertanian tanaman pertanian digunakan untuk kebutuhan sendiri (subsisten).

Subsisten adalah sebutan untuk pangan yang diambil dari sumber daya alam yang ada, serta lebih ditujukan untuk konsumsi sendiri daripada untuk tujuan perdagangan (Marzali, 2002). Kegiatan pertanian ini dilakukan dengan teknologi yang sangat sederhana, sehingga kerusakan lingkungan akibat penggunaan teknologi bisa diabaikan. Sementara hasil pertanian untuk tujuan subsisten, hasil dari tanaman perkebunan seperti karet, sawit dan lain-lain digunakan untuk tujuan komersial. Pengelolaan tanaman perkebunan ini juga dilakukan dengan sederhana tanpa masukan teknologi. Hutan dibuka untuk perkebunan, kemudian setelah bibit ditanam dibiarkan begitu saja tanpa pemeliharaan. Kemudian jika memungkinkan beralih membuka daerah lain, begitu seterusnya. Jika tanaman perkebunan dirasa sudah layak panen, kemudian dilakukan pemanenan dengan pemeliharaan hanya berupa penyiangan yang dilakukan sewaktuwaktu disela-sela kegiatan pemungutan hasil. Tidak intensifnya pengelolaan lahan membawa pengaruh positif keadaan lingkungan masih cukup terjaga.

Namun demikian pemanfaatan lahan yang tidak memenuhi kaidah kesesuaian dan kemampuan lahan lama kelamaan akan membawa dampak buruk yang makin meluas. Alih fungsi kawasan lindung sebagai daerah budidaya pertanian dapat mengakibatkan terjadinya bahaya banjir dan tanah longsor pada musim penghujan, dan kekeringan dimusim kemarau. Oleh sebab itu pengelolaan lahan dalam suatu DAS harus dilakukan sebijaksana mungkin, dan kondisi ini harus benar-benar ditekankan kepada masyarakat petani agar mereka mengerti dan memahaminya, serta bersedia melakukan kegiatan konservasi terutama untuk mengurangi kerusakan lingkungan.

F. Stratifikasi Sosial dan Hubungan Kemasyarakatan

Studi tentang kehidupan sosial ekonomi petani di pedesaan Jawa mengungkapkan bahwa struktur agraris di pedesaan Jawa ditandai oleh ketimpangan distribusi penguasaan tanah yang cukup tajam (Amaludin, 1987). Amaludin membagi struktur petani berdasarkan luas kepemilikan lahan yaitu, petani besar yang menguasai tanah pertanian > 1 Ha, petani menengah menguasai 0.5 Ha-0.99 Ha, petani kecil menguasai 0.25 Ha-0.49 Ha, dan petani gurem menguasai < 0.25 Ha. Struktur penguasaan tanah menjadi faktor penentu struktur sosial masyarakat petani.

Berdasar luas kepemilikannya terdapat variasi luas kepemilikan lahan berdasar kondisi geografis. Sebanyak 86% responden Sub-sub DAS Urang atas memiliki lahan >1 Ha, pada responden Sub-sub DAS Urang bawah hanya 33% responden yang memiliki lahan > 1 Ha, sedang pada responden Sub-sub DAS Merawu hulu atas 25% memiliki lahan > 1 Ha, responden Sub-sub Das Merawu hulu bawah dan Sub-sub DAS Merawu hilir hanya memiliki lahan dibawah < 0.5 Ha. Semakin hilir, luas tanah yang dimiliki petani menjadi semakin sempit. Hal ini karena luas lahan yang semakin tidak sesuai dengan perkembangan jumlah penduduk, dan harga tanah yang semakin mahal. Ketimpangan kepemilikan tanah membawa kecenderungan pada hubungan secara sosial baik pada kedudukan maupun peranan dalam masyarakat. Petani pemilik lahan luas umumnya memiliki kedudukan relatif lebih tinggi dalam masyarakat dan dikategorikan sebagai masyarakat elite desa, hal ini sesuai dengan penelitian Amaludin (1987) yang menyatakan bahwa petani penguasa tanah memegang posisi dominasi dalam struktur desa.

Struktur sosial masyarakat bersifat komunal, dimana hubungan lebih bersifat personal kekerabatan berdasar nilai-nilai budaya Jawa. Kerjasama dalam kerangka hubungan komunal diwujudkan dalam bentuk tindakan kolektif seperti gotong royong. Konflik-konflik yang muncul sedapat mungkin diredam, dengan cara-cara kekeluargaan. Hal ini terutama untuk menjaga keharmonisan hubungan sosial dalam masyarakat. Pada pengambilan keputusan bersama masyarakat desa, solidaritas komunal masih menjadi dasar pertimbangan pada dampak terhadap kerukunan dan stabilitas sosial.

Struktur petani di luar Jawa berdasar luas kepemilikan lahannya memiliki pola yang berbeda. Struktur petani diklasifikasikan sebagai petani besar yang menguasai luas tanah >3 Ha, petani menengah yang menguasai luas tanah 2 Ha-2,99 Ha, petani kecil menguasai 1 Ha-1,99 Ha, dan petani gurem <1 Ha. Berdasarkan luas kepemilikannya sebanyak 27,8% responden Sub DAS Bungo Hulu termasuk petani besar dengan luas lahan >3 Ha, 11,1% responden termasuk petani menengah, 27,8% petani kecil, dan 33,3% adalah petani gurem. Pada Sub DAS Bungo tengah 33,3% adalah petani besar, 40% petani menengah, dan 26,7% adalah petani kecil. Sedang pada responden Sub DAS Bungo hilir 50% merupakan petani besar, 7,1% adalah petani menengah, 28,6% dikategorikan petani kecil, dan 14,3% adalah petani gurem yang hanya menguasai lahan <1 Ha. Terdapat perbedaan yang mencolok dimana di daerah hulu jumlah petani gurem lebih banyak daripada daerah hilir. Keadaan ini disebabkan sulitnya kondisi di hulu mengakibatkan luas lahan yang dapat dikelola penduduk terbatas, dibanding di hilir yang secara geografis lebih baik sehingga penduduk lebih bisa mengolah tanah luas.

truktur masyarakat juga bersifat komunal, masing-masing kelompok masyarakat berkumpul dan membentuk komunitas desa. Masyarakat memiliki ikatan yang sangat erat pada pemimpinnya, namun masyarakat tetap memiliki akses untuk menyalurkan aspirasinya. Tidak selalu elite desa didominasi oleh penguasa tanah, namun lebih berdasar pada kemampuan seseorang. Berbeda dengan masyarakat Jawa yang selalu berusaha menjaga keselarasan hidup dengan menghindari konflik, masyarakat di SUB DAS Bungo lebih terbuka pada konflik. Namun mereka tetap mengembangkan cara menjaga keselarasan hidup dengan melakukan berbagai dialog sehingga aspirasi dari setiap kepentingan tersalurkan, dan tidak ada kelompok masyarakat tertentu yang merasa dirugikan

VI. KESIMPULAN

  1. Komposisi mata pencaharian terbesar penduduk di Sub DAS Merawu dan Sub DAS Bungo adalah pertanian, dan pendapatan utama petani terbesar terutama berasal dari sektor pertanian yaitu pertanian lahan kering di Sub DAS Merawu dan perkebunan karet di Sub DAS Bungo. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kegiatan dasar penduduk dipengaruhi oleh sektor pertanian. Kondisi ini ditunjukkan dengan nilai LQ>1 yang berarti kebutuhan akan lahan fungsinya sebagai lahan pertanian masih cukup tinggi.
  2. Meskipun ketergantungan penduduk dikedua daerah penelitian pada sektor pertanian sangat tinggi, tekanan penduduk terhadap lahan (TP) baik di Sub DAS Merawu maupun di Sub DAS Bungo masih dapat dikategorikan ringan, dalam pengertian lahan masih memiliki daya dukung terhadap berbagai kegiatan penduduk saat ini.
  3. Keadaan alam di Jawa yang subur memungkinkan petani mengembangkan tanaman semusim, dan karena pertumbuhan penduduk yang tinggi permintaan akan hasil pertanian tanaman pangan sangat tinggi sehingga lahan pertanian di Sub DAS Merawu dikelola dengan intensif dengan menggunakan teknologi untuk meningkatkan hasil pertaniannya, akibatnya lingkungan mulai mengalami kerusakan. Sedangkan kondisi alam di Sub DAS Bungo lebih cocok bagi pengembangan tanaman perkebunan terutama karet daripada tanaman semusim, pengelolaan tanaman dilakukan secara sederhana tanpa masukan teknologi sehingga pengaruhnya pada kerusakan lingkungan dapat diabaikan.
  4. Pendapatan utama petani diperoleh dari lahan pertaniannya. Di Sub DAS Merawu kontribusi terbesar terutama berasal dari hasil tegalan, hasil pertanian tanaman semusim ini terutama untuk tujuan komersial. Sedangkan di Sub DAS Batang Bungo kontribusi terbesar pada pendapatan keluarga terutama dari hasil tanaman perkebunan, sedang hasil tanaman semusim untuk kebutuhan sendiri.
  5. Stratifikasi sosial masyarakat Di Sub DAS Merawu sangat dipengaruhi oleh luas kepemilikan lahan, dan keadaan ini berpengaruh pada kedudukan seseorang dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Umumnya petani di Sub DAS Merawu memiliki lahan kurang dari 1 Ha, hanya sebanyak 33,3% dari seluruh responden yang termasuk sebagai petani berlahan luas. Sedang pada masyarakat Sub DAS Bungo sebanyak 36,2% adalah petani besar dengan luas kepemilikan lahan lebih dari 3 Ha, dan kedudukan seseorang dalam masyarakat tidak dipengaruhi oleh ketimpangan kepemilikan tanah, tetapi lebih kepada kemampuan yang dimiliki seseorang.

DAFTAR PUSTAKA

Amaludin, M. 1987. Kemiskinan dan Polarisasi Sosial : Studi Kasus di Desa Bulugede, Kabupaten Kendal Jawa tengah. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.

BPS. 2002. Banjarnegara Dalam Angka. BPS Kabupaten Banjarnegara.

BPS. 2002. Bungo Dalam Angka. BPS Kabupaten Bungo.

Departemen Kehutanan. 2001. Rencana Teknik Lapangan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Sub DAS Merawu DAS Serayu. BRLKT Opak Progo Serayu. Yogyakarta.

De Vries, E. 1985. Pertanian dan Kemiskinan di Jawa. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. Marzali, A. 2002. Pengelolaan Lingkungan Sosial. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Jakarta.

MOF, UNDP, FAO. 1985. Assistance to Watershed Management Programs. Indonesia. Applied Research Needs and Soil Conservation Techniques for Field Trial in The Outer Islands. Ag: DP/INS. 83/034. Field Doc. Solo.

Paimin. 2003. Kajian Karakteristik Daerah aliran Sungai. Laporan Pengkajian dan Penerapan Hasil Penelitian Kehutanan. BP2TPDAS-IBB. Departemen Kehutanan. Surakarta.

Poerwanto. H. 2000. Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi. Penerbit Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Puslitbang Pengairan. 1998. Data Tahunan Debit Sungai. Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta.

Seyhan, E. 1977. Fundamentals of Hydrology. Terjemahan. S. Subagyo.1990. Dasar- Dasar Hidrologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sutopo,H.B. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Sebelas Maret University Press. Surakarta.

Zaeni, W.A. 1987. Konsep-konsep Dasar Sosiologi Dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Ditjen RRL. Jakarta.

2 Comments »

  1. Makasih Informasinya
    Silahkan kunjungi BLOG kami http://h0404055.wordpress.com
    Terdapat artikel yang menarik dan bermanfaat, apabila berkenan tolong silahkan beri komentar
    Salam Kenal dan Terima Kasih

    Comment by h0404055 — April 5, 2010 @ 4:56 pm

  2. Terima kasih informasinya, nambah wawasan.
    Salam kenal!
    Boleh tanya nih ?
    Yang benar SUB DAS Batang Bungo atau SUB SUB DAS Batang Bungo? karena menurut saya Batang Bungo anak dari Batang Tebo jadi hirarkinya/urutannya : SUB SUB DAS Batang Bungo,SUB DAS Batang Tebo, DAS Batang hari.

    Comment by BDN — June 26, 2010 @ 5:42 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: